Prom Night (Cerpen part of With Past)



“Mereka bilang kita punya semangat pesta yang sama; sang sanguinis yang ingin dianggap, sang sanguinis yang ingin dilihat. Semangat pesta untuk menunjukkan kebolehanmu, kebolehanku yang akhirnya menjadi kebolehan kita”


Satu minggu sudah berlalu, acara prom night akan dimulai malam ini. Sejak chat terakhir itu, Galang mendiamkan chat dari Gina. Sebetulnya, Gina ragu untuk datang ke acara prom night malam ini. Namun, ia harus hadir karena beredar kabar bagi nama-nama yang lolos ke perguruan tinggi negeri akan dibagikan piagam. Selain itu, acara ini adalah acara yang sudah banyak para siswa-siswi tunggu! Jadi ratu atau raja semalam adalah goal para siswa-siswi.

Tak ingin larut dalam kesedihan karena Galang menjadi semakin menjengkelkan, Gina pun beberapa hari sebelumnya langsung pergi bersama Yola ke boutique, me-time di salon dan nyushi di Ichiban.

Tapi, tetap saja hatinya terasa hampa. Ia sudah sangat merindukan Galang tapi Galang sama sekali tak ada itikad baik untuk menghubunginya.

Dan kini, ia sedang memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Dengan gaun panjang berwarna pink pastel berenda tersampir di bahu yang sangat melekukkan tubuh semampainya. Di tambah hair do dari sang kakak yang menunjukkan leher jenjang Gina serta make up natural yang membuat penampilannya kian menawan.

Namun, tetap saja penampilannya akan sia-sia apabila tidak ada seseorang untuk ia gandeng. Meski banyak yang ingin pergi bersama Gina, entah kenapa ia dan hatinya hanya ingin Galang seorang meski sebetulnya ia masih gondok setengah mati.

Bunyi klakson mobil tiba-tiba memekik di luar rumah Gina. Yola kah? Tapi, Gina belum memberi aba-aba untuk Yola datang ke rumahnya. Gina pun melongok ke jendela dan betapa terkejutnya ia saat melihat mobil Galang sudah bertengger cantik di depan gerbang rumahnya!

Masih dalam suasana terkejut, tiba-tiba Galang keluar dari mobilnya sudah rapi dengan suite and tie yang sangat pas untuk Galang! Oh my God, jantung Gina hampir mencelos keluar ketika melihat betapa tampannya Galang hari ini! Dengan setelan suite and tie berwarna hitam, Galang keluar mobil sambil membuka jas yang ia kenakan dan ia sampirkan di lengannya.

Tubuh Galang yang atletis pun terbentuk dengan indah dalam balutan klasik yang eye catching! Bagaimana Gina tak takut kehilangan makhluk seperti ini?? Galang pun langsung memencet bel rumah Gina hingga membuat Mbak Opi yang bekerja di rumah Gina membukanya serta mempersilakan Galang untuk masuk.


“Gina nya udah berangkat belum, Mbak?” sayup-sayup suara Galang terdengar saat berbicara dengan Mbak Opi.


Gina yang memperhatikan Galang sedaritadi dari jendela kamarnya yang mengarah langsung ke halaman rumah pun akhirnya langsung disadari Galang. Galang melirik Gina sepintas dengan senyum yang mengembang. Buru-buru Gina menghampirkan gordyn kamarnya.

Ternyata dia udah siap. Kata Galang dalam hati.


“Yuk masuk, Mas Galang. Mbak Gina lagi siap-siap kayaknya.” Kata Mbak Opi.


Galang pun memasuki rumah yang sudah biasa ia kunjungi. Pada sore hari ini suasana rumah Gina tampak sepi. Wajar lah, orang tua Gina sibuk bekerja dan kakaknya Gina, Kak Juni, biasanya tak di rumah, namun entah untuk hari ini.

Dengan ragu Gina keluar kamar dan mendapati Galang sudah duduk di sofa dan ada Mbak Opi yang sudah menyiapkan minum untuknya. Meski manyun, Gina pun langsung duduk di dekat Galang.


“Ada yang benci aku, katanya.” Kata Galang membuka suara saat Gina hendak duduk.


Gina hanya terus memainkan jari dan kukunya.


“Hey, ada yang benci aku, nih?” kata Galang lagi sambil melongok menatap Gina.


Yang ditatap pun hanya membuang muka mencoba sok cuek, padahal dalam hati ia sudah rindu setengah mati!

Dengan lembut, Galang meraih tangan Gina. Mengusapnya pelan dan tersenyum menatap Gina yang sedaritadi terus membuang muka.


“Gin, aku nya kan disini. Kok ngeliatnya ke arah itu terus?” ujar Galang.


Air mata sudah mengembung tertahan di kelopak mata Gina. Namun, kalau ia menangis, make up nya bisa hancur! Dengan keberanian yang Gina coba keluarkan, ia pun memberanikan diri menatap Galang.

Dan… sedetik kemudian…..


“Huaaaaaaaaa! Galang kamu rese!!!!!!!!! Aku kan kangen udah hampir sebulan gak ketemu kamu! Main mulu sama temen! Getol banget update sosmed tapi ngehubungin aku gak bisa!!!!!!” kata Gina meraung-raung yang tak bisa ia tahan lagi.


Galang yang melihatnya pun langsung panik menyambar tisu di meja ruang tamu Gina dan memberikan tisu itu kepada Gina.


“Heeee orang! Udah cantik juga. Make-up nya luntur deh!” pekik Galang.


“Abis kamu nyebelin!!!!” kata Gina lagi memukul-mukul tangan Galang.

Galang pun berpindah posisi lebih dekat dengan Gina lalu mulai mengelus-elus punggung Gina yang terbuka.

“Hehe, maaf ya, Sayang, aku sengaja ngediemin kamu. Abis kamu marah-marah mulu, aku males ngeladeninnya. Dari pada makin panjang, mending gak aku bales kan.” kata Galang menjelaskan.

“Tapi nyebelin!” kata Gina mulai tenang mencubiti tangan Galang.

“Ih, sakit tau dicubit-cubit!” kata Galang menahan tangan Gina.

“Aku mau peluk, Lang…. tapi nanti rambut aku rusak.” Kata Gina mulai manja.

“Iya, sini. Aku hati-hati deh biar rambut kamu gak rusak.” Kata Galang membuka diri agar Gina memeluknya.

“Ehm!” tiba-tiba suara dehaman membuat Gina urung memeluk Galang.

“Hasil karya gue itu! Awas aja kalo rusak kaga gua benerin lagi lu, Gin.” Pekik Kak Juni dari dalam rumah.

“Ada Juni?” tanya Galang kaget.

Kak Juni!” kata Gina mekankan kata ‘Kak’ karena Galang gak sopannya mulai keluar. “Iya doi lagi di rumah seharian. Ini rambut aku yang anuin dia.” Lanjut Gina lagi.

“Pfft.. anuin. Yang, kamu kalo ngomong jangan ambigu.” Ledek Galang.

“Ih maksud aku yang hair do-in rambut aku, Kak Juni.” Ulang Gina.

“Iya iya ngerti.” Kata Galang paham.

“Mau jalan kapan?” tanya Gina.

“Yakin mau jalan sekarang? Kamu gak mau ngaca dulu, gitu?” tanya Galang kembali.

Gina pun langsug buru-buru masuk kamar karena paham maksud Galang. Ia baru saja menangis dan pasti make up nya hancur total! Astaga……. Benar saja. Saat Gina melihat pantulan dirinya di cermin, mascara nya hancur total hingga membuat Gina harus pelan-pelan merapihkannya.

“Galang ih, kok, kamu gak bilang-bilang muka aku ancur begini???” teriak Gina dari dalam kamar yang tak ia sadari Galang sudah memperhatikan Gina dari pintu kamar.

“Mau make-up kamu ancur kayak apa juga, Gin, orang kalo udah cinta mah cinta aja.” Kata Galang hingga membuat Gina tersipu.

“Ih rese! Sana keluar! Malu aku ah.” Kata Gina mendorong Galang keluar dari kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

“Aku rapihin dandanan dulu trus nanti kita langsung jalan ya.” Kata Gina bersandar di balik pintu kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Galang benar-benar pria idamannya!

“Oke. Aku tunggu di ruang tamu ya, Gin. Harus cepet loh.” Timpal Galang.

Dengan sigap, Gina langsung membenahi make-up nya. Dalam hitungan menit, make-up Gina pun sudah rapih total. Ia pun langsung menyambar high heels silver miliknya besert clutch silver dari dalam lemarinya. Dengan anggun, Gina melangkah keluar kamar dan menuju ke ruang tamu.

Galang pun terkesima dengan aura anggun yang Gina keluarkan. Dengan bangga, Galang langsung berdiri dan menawarkan lengan kokohnya untuk digamit oleh Gina. Gina tertawa kecil melihat Galang berlaga seperti pangeran dari negeri dongeng. Gina pun menggamit lengan Galang sambil berjalan keluar rumah bak seorang putri kerajaan.

“Kak Juni, aku jalan ya.” Teriak Gina kepada kakaknya.

“Yooo, hati-hati, Lang.” balas Kak Juni sambil meminta Galang untuk berhati-hati.

Tunggu… ada yang berbeda. Cara Galang melihat Gina sedikit berbeda. Ada apa ini? Ah, paling hanya karena mereka habis bertengkar. Pikir Kak Juni.

***

Sepanjang perjalanan, Galang membiarkan Gina menyetel musik kesukaannya. Gina terus berdendang ceria karena suasana hatinya sudah amat membaik berkat Galang yang menjemputnya.
Eh, tunggu! Gina lupa sesuatu…. Ah, Yola! Ia belum memberitahu Yola bahwa ia pergi ke prom night malam ini bersama Galang!

Di saat yang bersamaan, ponsel Gina pun berdering tanda telepon masuk. Yola meneleponnya!

“Hal…”

“Heh, Nenek Lampir! Gak bilang-bilang berangkat sama Galang. Gue tadi ke rumah lu dan kata Kak Juni lu udah jalan sama Galang! Dasar lu ya giliran udah baikan temen dilupain!” kata Yola diseberang telepon langsung mencak-mencak.

“Yola sayangku maaf!! Lupa banget soalnya tadi pas Galang dateng, gue nangis trus benerin make-up deh. Maaf sayang!” kata Gina meminta maaf.

“HHHH… Iya iya. Syukur deh kalo lu sama Galang udah baik-baik aja. Jangan uring-uringan lagi, oke?” pinta Yola.

“Oke!”

“Dah, ya, ketemu disana.” Kata Yola yang langsung menutup teleponnya.

“Di omelin Yola kamu ya?” kata Galang terkikik.

“Iya… gara-gara lupa bilang berangkat sama kamu, padahal tadinya aku mau berangkat sama dia.” Jawab Gina sambil meletakkan ponselnya kembali ke dalam clutch.

Galang dan Gina mendadak diam pekat. Hanya alunan High Hopes dari Kodaline yang mengisi aura di dalam mobil. Gina pun hanya memandang keluar jendela.

Selang beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di Hotel Carlton, tempat prom night diadakan oleh penyelenggara sekolah. Usai meminta valet untuk memarkirkan mobil Mercedes Benz milik ayah Galang, ia dengan Gina pun memasuki hotel dan langsung menuju ke hall di lantai tiga.

Setibanya di hall, suasana hiruk pikuk pesta langsung menyambut mereka. Lagu-lagu masa kini bermain hingga menghidupkan suasana. Terlihat DJ Riri sedang bersiap-siap untuk acara puncak nanti. Teman-teman Galang dan Gina pun langsung menyambut riuh mereka.

“Duh, udah baikan nih ceritanya? Jangan galau mulu, Gin, kalo ditinggal Galang main. Entar kehilangan Galang beneran loh.” Kata Mona yang hanya dibalas senyuman dari Gina.

“Eh foto di photobooth gih kalian! Pasangan ter-serasi tahun ini!” kata Vivi sok hebring.

“Iya iya gampang, nanti aja.” Timpal Galang.

“Foto sekarang aja yuk, Lang, entar keburu rame.” Ajak Gina yang dituruti oleh Galang.

Acara demi acara pun dimulai sampai tak terasa sudah diujung acara dan terkesiaplah Gina dan Galang saat mereka ditunjuk sebagai The Queen and The King of Prom Night 2013. Orang-orang sudah tak meragukan hal itu lagi mengingat mereka memang pantas mendapatkannya.

Usai acara jam setengah dua belas malam, tiba-tiba Galang menarik Gina ke dalam lift dan mereka menuju ke lantai lima. Meski kebingungan, Gina terus mengiringi langkahnya dengan Galang hingga tiba di depan kamar bernomor 520.

“Kita istirahat disini ya, Gin, malam ini.” kata Galang sambil menarik tangan Gina memasuki Sweet VIP Room.

Jantung Gina berdetak tak karuan. Hampir mencelos. Bagaimana bisa Galang sudah men-check in kamar ini tanpa persetujuan darinya? Gina pikir ia akan langsung dibawa pulang oleh Galang atau mungkin akan diajak ke restoran mewah dulu. Namun, diluar dugaan, Galang malah membawa Gina ke kamar yang…. Lebih cocok untuk pasangan pengantin baru.
Perasaan Gina mulai tak enak.

“Lang, aku mau pulang.” Kata Gina tegas melepaskan genggaman Galang. Namun Galang malah semakin menggenggamnya lebih kuat lagi.

“Lang, plis, aku emang sayang sama kamu, tapi kita gak harus kayak gini sebelum waktunya!” kata Gina mencoba memberi pengertian.

Ia sadar mereka sudah delapan belas tahun. Sudah mulai ada rasa penasaran akan hal-hal seperti ini dan menganggap diri mereka sudah mulai dewasa. Tapi…. bukan seperti ini caranya.

“Aku gak akan ngapa-ngapain kamu, Gin. Kita cuma istirahat. Aku berani jamin keamanan kamu.” Kata Galang menatap Gina lekat-lekat.

“Enggak, Lang. Kalo setan lewat, hal yang gak diinginkan bisa aja terjadi. Kamu tidur aja disini malam ini, ya. Aku mau pulang.” Kata Gina melepas genggaman Galang dengan perlahan.

Tak terduga, Galang langsung memeluknya dari belakang.

“Tadi kamu bilang kita udah hampir satu bulan gak ketemu, kan? Kamu bilang, kamu kangen aku, kan? Aku juga sama, Gin. Aku mau ngabisin waktu lebih banyak lagi sama kamu.” Kata Galang berbisik ditelinga Gina.

“Iya aku ngerti. Tapi kan masih ada besok-besok, Lang.” timpal Gina mengusap lembut tangan Galang yang melingkar di lehernya dan sesekali mengecup pipi Galang.

Besok-besok? Entah kenapa Gina meragukan kalimat itu. Galang pun melepas pelukannya.

“Yaudah, yuk. Aku antar kamu pulang.” Kata Galang.

Akhirnya, Gina pun pulang diantar Galang. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah Gina. Gina pun hendak turun dari mobil Galang, namun sebelumnya ia mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Galang.

Namun…….

Galang menjauh.

Gina dapat merasakan ada benteng yang berusaha Galang bangun. Mungkinkah Galang marah padanya karena ia menolak untuk ‘istirahat’ dengannya di kamar hotel? Ah, gak mungkin.

Dengan ragu, Gina pamit dan keluar dari mobil Galang. Galang pun memutar balik mobilnya dan langsung menancap gas dengan kekuatan penuh seakan-akan ia sedang kesal terhadap sesuatu.

Lang…….. kenapa?

***

Hula!!! Kembali lagi dengan salah satu BAB di buku yang saya buat dengan judul With Past. Sudah ada di Wattpad
Tapi belum completed alias masih on going! HEHEHE
Semoga suka ya! Lots of love! 

SIMILAR POSTS

Berhenti Menangisiku (Cerpen)



Suatu senja di lain semesta, di suatu rerumputan nan hijau bersama sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras dan menyejukkan. Seorang gadis berambut hitam panjang sedang memohon kepada sesosok malaikat putih. Gaun merah mudanya tertiup angin hingga menampakkan betis mungilnya yang putih. Sang malaikat melihatnya nyaris tanpa ekspresi.


"Tolong lah aku, Malaikat. Katakan kepada Dewa bahwa aku ingin segera menemuinya. Sudah hampir setahun aku tersiksa karenanya, karena air matanya. Sungguh menyiksaku!" Ucap gadis anggun itu.



"Baiklah, aku tak ingin berjanji kepadamu. Tapi, akan Ku usahakan yang terbaik."


Seketika, malaikat itu menghilang.


"Terima kasih banyak, Malaikat Putih!" Teriak gadis anggun itu kepada langit yang kosong.

Suaranya memenuhi semesta penuh harapan. Lalu, ia berjalan menuju sungai dan duduk di sebuah batu yang besar. Ia memandang sungai yang sangat jernih dan bening hingga ia bisa melihat dasar sungai tersebut.

Hingga seketika,


"Aww!" Jantungnya yang telah mati terasa hidup kembali karena rasa sakit yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.


Ia kembali menatap sungai yang jernih itu. Ia yakin, semuanya akan berakhir.

***

Tok tok tok.

Ketukan pintu pun ia hiraukan. Ia kembali menangis tadi pagi hingga tertidur. Matanya hitam bagai seekor panda, rambutnya gondrong dan acak-acakan.


"Erza! Buka pintunya! Lo udah seharian gak keluar kamar!" Teriak suara seorang wanita dari luar kamar kost Erza.


Klik.

Erza membuka pintu dengan keadaan setengah sadar.


"Oh, Zora. Kenapa?" Tanyanya malas.



"Lo belom makan seharian kan? Ayo kita makan!" Ajak Zora menarik tangan Ezra.


Alih-alih menjawab, Ezra menepis tangan Zora. Ia pun kembali masuk. Tak lama kemudian ia kembali keluar dengan mengenakan jaket cokelat yang dekil.


"Gak usah, terima kasih." Akhirnya Erza menjawab.



"Hei, lo mau kemana?" Tanya Zora ketika lawan bicaranya berjalan melewati dirinya, "Plis, jangan mie ayam lagi!" Lanjutnya tetapi lawan bicaranya semakin menjauh.


Erza berjalan dengan tatapan kosong. Ia berjalan tanpa henti, berbelok jika perlu dengan terus berjalan. Hingga akhirnya, ia masuk ke tenda penjual mie ayam.


"Pak, mie ayam seperti biasa ya." Ia pun duduk di kursi yang telah disediakan dengan tatapannya yang kembali kosong.


***


"Bagaimana, Malaikat?" Tanya gadis anggun itu penasaran ketika sesosok malaikat putih menghampirinya.



"Kau diperbolehkan menemuinya." Ucap malaikat itu datar.



"Benarkah???? Terima kasih banyak!" Ucapnya senang bukan main.



"Tetapi dengan beberapa syarat."



 "Syarat? Kupikir akan mudah. Apa saja syaratnya?" Tanya nya sedikit jengkel.



"Kau hanya diperbolehkan menemuinya sampai jam enam sore waktu setempat. Kau harus segera berusaha menyampaikan pesanmu padanya. Jika kau menginginkan dia untuk melihatmu, Dewa akan mengizinkannya tapi kau akan lupa tujuanmu datang padanya. Jadi, sebaiknya kau sampaikan pesanmu secara tersirat karena akan sia-sia saja jika ia melihatmu namun kau melupakan tujuanmu. Omong-omong, apa sebenarnya tujuanmu untuk menemuinya?"


Gadis anggun itu melongo, ia hampir tak mendengar pertanyaan malaikat.


"A-aku hanya ingin ia untuk berhenti menangisiku,"


***

Pukul 19.00

Setelah selesai makan mie ayam, Erza berjalan lurus tanpa ragu. Tatapannya masih kosong, entah apa yg ia pikirkan. Hingga akhirnya, ia berhenti di depan sebuah makam. Ia menatap gapura makam tersebut, dilihatnya sebuah nama "Makam Ratu Ayu" lalu ia memasuki makam tersebut.

Langkahnya tegas, tatapannya tajam di gelapnya malam, meski berkali-kali ia menginjak daun kering dan ranting yang rapuh. Ia tak peduli, ia hanya ingin menemui sahabatnya --sekaligus cinta pertamanya. Hingga akhirnya, ia berhenti di sebuah batu nisan dan berjongkok mengelus batu tersebut.


"Halo, Anna. Apa kabar?" Lirihnya menahan tangis.



"Gue... Gue bener-bener gak bisa maafin diri gue sendiri, An. Udah hampir setahun kepergian lo tapi gue masih belum bisa terima. An, gue kangen lo!" Air mata mulai menetes di pipi tirus Erza.

Tiba-tiba sosok bergaun merah muda muncul di hadapan Erza.


"Pantes jantung gue sakit lagi. Lo nangisin gue! Plis, Erza, stop! Lo gak tau betapa tersiksanya gue." Teriak sosok bergaun merah muda itu.



"Andai gue gak berniat nembak lo saat Valentine. Andai kita gak janjian di taman itu. Pasti.. Pasti lo masih ada sampe sekarang. Gara-gara gue, lo kehilangan cita-cita lo sebagai dokter. An, maafin gue....." Erza mulai terisak dan Anna semakin tersiksa.



"Anna, kalau lo ada disini, gue bakal ajak lo ke kamar kost gue. Kita nonton film bareng, dan di saat gue ketiduran, lo dengan apiknya ngbeberesin kamar gue yang... Yang berantakannya udah mirip kapal pecah. An, lo pasti liat gue kan? Gue.. Gue gak pernah bisa berhenti nangis kalau udah nangisin lo. Maafin gue, An. Gue.. Gue bener-bener kangen sama lo. An.. Gue sayang lo... An... Huhuhu" tangis Erza memeluk batu nisan milik Anna.


Anna mulai pilu melihat Erza. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Erza, ia mulai menatapnya dengan seksama. Dagu lancipnya, hiding mancungnya, kulit eksotisnya—tidak berubah. Namun, satu hal yang membuat Anna kesal, rambutnya gondrong untuk ukuran laki-laki. Rasanya, Anna ingin menjambaknya.


"An.. Hiks. Lo tau gak kenapa rambut gue jadi gondrong seperti ini?" Anna mendelik. Erza seakan-akan tau pikirannya.



"Karena.... Gue kangen ketika jari-jari lo menyusup masuk ke sela-sela rambut gue dengan gemas. An.. Jambak gue dong." Lanjutnya sambil menjambak rambutnya frustasi.



"Dasar bodoh! Gue gak bisa jambak lo lagi, Erza. Bodoh! Erza bodoh! Jangan nangis lagi di makam gue, Za. Itu cuma bikin gue tersiksa!" Ucap Anna kesal mulai menangis.



"An, gue ngerasa lo deket sama gue. Kayak.... seakan-akan lo ada di samping, bahkan di hadapan gue." Ucapnya tersenyum, setetes air mata menetes jatuh ke tanah makam milik Anna.



"Huuuu. Erza!!!!" Anna melompat memeluk Erza.



"Aduh!!!" Ternyata tubuh Anna menembus tubuh Erza dan seketika ia jatuh terjerembap ke tanah.



"Udara semakin dingin, An. Gue rasa, gue harus segera pulang. Besok gue kesini lagi kok. Dah, Anna." Ucap Erza seraya mencium batu nisan Anna.



"Erza tunggu!! Gue ikut!!" Anna segera bangkit dan berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Erza.


Kini, ia berada di samping Erza. Ia menoleh dan mulai mengamati Erza. Lalu, ia melihat ke menara jam yang besar di tengah kota.


"Baru jam 9 malam? Baik lah, waktu yang kumiliki masih banyak. Aku pasti bisa memanfaatkannya! Pokoknya Erza gak boleh nangisin aku lagi!"


Erza memasuki kamar kost miliknya. Mendadak, ia ingin sekali menonton film kartun favorit Anna. Ia mengambilnya lalu mulai menyetelnya.

Anna pun terkesiap saat melihat kamar Erza.


"Erza... Kamar lo. Bener-bener kapal pecah! Bahkan gak ada ruang buat gue duduk."


Born of cold in winter air and mountain rain combining....


"Whoah!!!!! Frozen!!!!" Anna kegirangan melihat apa yang ada dilayar TV berukuran 24inch itu.

Akhirnya Anna duduk dan menonton film kartun favoritnya bersama Erza.

Anna menoleh hendak ingin melihat Erza, namun ternyata Erza sudah tertidur. Anna menatap Erza dengan seksama, seketika jantungnya yang telah mati kesakitan. Dan, dilihatnya setetes air mata menjatuhi pipi Erza.


"Erza, plis.. kapan lo mau berhenti nangisin gue?"

***

SIMILAR POSTS

Lombok (Cerpen)

"He? Cabe? Erica? Ngapain??? Kok gak bilang?" tanya Rumi terkaget-kaget saat melihat Cabe dan Erica sudah nangkring di kamarnya bersama koper.
"Akhirnya datang juga. Yuk caw. Gue udak pack-in barang lu." Kata Cabe seraya menarik koper dan tangan Rumi.
"Caw? Caw kemana?"
Cabe pun menunjukkan tiket menuju Lombok. "Ke kampung gua,"
"Lu gila? Gue senin masih kerja!" kata Rumi masih kebingungan.
"Elah kerja mulu lu. Liburan lah kali-kali. Ayo ah buru! Flight jam 1 nih kita." Kata Cabe lagi masih menarik Rumi.
Rumi pun terseret-seret ditarik Cabe.
"Mbuy, kamu diem aja. Ini kenapa?? Ada apa?"
Erica pun hanya tersenyum. "Nurut aja sama kita ya."
Rumi mengernyit. Ia kebingungan dengan sikap Cabe dan Erica. Nempel pantat aja belum, udah harus pergi lagi.
"Hati-hati ya, Mbak." Kata Ayah nya keluar kamar. "Bawa oleh-oleh kalo sempet." Kata Ibu nya tiba-tiba.
"I.. Iya.."
"Pamit, Abi, Umi..." kata Cabe sok akrab.
"Mang emak bapak lu?"
"Iyalah kakak ipar. Ayang gua aja tadi gua kelonin di kamarnya."
"Alig lu dasar."
"Be, buruan deh. Taxi nya udah nungguin." Kata Erica menyela.
"Iye iye. Yuk buru."
Rumi kebingungan. Ia pun hanya menurut dan langsung duduk di dalam taxi serta membiarkan Erica dan Cabe memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.
Ini kenapa?? Ada apa????

***

Bandar Udara Internasional Lombok pukul 4 pagi
"Mbuy, Cabe.. ini pagi buta. Kita mau kemana?"
"Udah, aman pokoknya."
Rumi pun hanya menuruti kata-kata Erica dan Cabe. Ia tak tau harus apa, hanya mengikuti mereka berdua hingga mobil pribadi –yang Rumi yakini adalah mobil sewaan, mobil itu pun membawa mereka ke pantai yang sepi di dini hari.

Rumi kembali celingukan, masih bingung dengan apa yang terjadi. Hingga tiba-tiba matanya ditutup oleh selembar kain dan ia tak bisa melihat apapun kecuali kegelapan.
"Eh eh eh... ulang tahun gue masih lama! Kok gue ditutup gini kayak mau dapet surprise aja???"
"Udah pokoknya lu keluar dari mobil sekarang!" kata Cabe tiba-tiba galak.
"Iya iya..."
"Ikutin kita," kata Erica menarik tangan Rumi.
"Iya iya..."
Suara deburan ombak pun terus menggema di telinga Rumi. Dan Rumi masih kebingungan ia akan dibawa kemana. Masa sih teman-temannya akan mendorong dia ke laut? Gak mungkin kan.
Setelah sekian lama berjalan tiba-tiba langkah Rumi terhenti. Lalu, Erica yang sedaritadi menuntunnya tiba-tiba melepaskan genggaman dan meninggalkan Rumi sendirian.

"Be.... Erica....?" Panggil Rumi sambil menggapai-gapai dengan jemarinya.
"Eh... kalian.... Kok diem?" Rumi masih bersuara.
"Eh... Kok sepi sih? Jangan sampe gue joget Caesar nih." Oceh Rumi lagi.
"Gue buka ya???"
"Cabe....? Kalo gue buka lu marah gak...?"
Masih juga tak ada jawaban.
"Oke gue buka ya..."
Rumi pun membuka penutup matanya.

Jeng jeng....

Di hadapannya kini ada sebuah layar putih besar dengan proyektor. Dalam sekejap, tiba-tiba sebuah video pun diputar.
"Halo!!!"
Itu adalah Rumi sewaktu remaja.
"Kita lagi dimana?" tanya Devan yang berada disamping Rumi.
"Di curug cilember! Adaw..." jawab Rumi yang langsung merintih sok sakit saat Devan menggerakan kepala Rumi agar menyender di pundak Devan.
"Di beliin gelaaang.." kata Rumi lagi.
"Murah gelangnya..." timpal Divan.
"Cuma goceng! Haha."
Rumi terkesiap menonton video yang diputar. Air matanya menetes begitu saja melihatnya. Itu adalah video yang sempat Rumi dan Devan buat sewaktu mereka pergi ke Curug Cilember.
"Kayaknya... ada orang yang mau dilamar. Daritadi ada tulisan ini. Aku juga mau dilamar disini!" kata Rumi di depan kamera saat melihat tulisan ‘I love you’ dari karangan bunga.
"Kodeeeeeee keras!" timpal Devan.
Menonton itu, Rumi pun tertawa dalam tangisnya. Ya ampun, ini pasti kerjaan Devan!
Hingga video itu pun habis dan muncul lah Devan dalam video.
"Rumi... maaf gak bisa bawa kamu ke Curug Cilember lagi. Aku... takut..." kata Devan.
"Aku pernah baca postingan Tumblr kamu. Kamu bilang, waktu kamu masih pacaran sama Rusdi, bulan Agustus kamu ke Curug Nangka dan bulan Oktober kalian putus. Terus, kita ke Curug Cilember bulan Mei, dan putus di bulan Juli. Jaraknya sama... dua bulan." Kata Devan di dalam Video.
"Bukannya aku kolot dengan percaya hal-hal kayak gitu, tapi aku menghindari hal yang gak aku pengen. Mungkin kamu gak begitu suka pantai dan lebih suka air terjun, tapi kalo boleh jujur, aku lebih suka pantai. Makanya sekarang, disini... di tempat yang aku suka, aku akan......"
Zleb.... tiba-tiba video tersebut mati.

Rumi pun celingukan dan penasaran ada apa... lalu layar putih besar itu pun jatuh ke pasir dan ada seseorang dalam kegelapan yang sudah berdiri disana hingga membuat Rumi semakin terkesiap.
Devan.

 Ia berjalan menghampiri Rumi. Dan dalam satu jentikan jari, tiba-tiba suasana ramai. Di sisi Rumi, teman-temannya ramai berkumpul. Lalu di sisi Devan, ramai pula teman-temannya.

Angin pantai saat dini hari pun terus berhembus yang dinginnya sampai menusuk kulit meski Rumi selalu memakai pakaian yang tertutup mulai dari kepala hingga kaki yang hanya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.

Devan pun semakin mendekat hingga akhirnya ia dapat sejajar dengan Rumi.

Pada dini hari ini, Devan terlihat cukup tampan dengan setelan kemeja yang digulung dan celana jeans santai. Rambutnya tetap sama, selalu ia usahakan untuk rapih padahal daridulu Rumi suka rambut Devan yang acak-acakan.

Devan pun tersenyum.
"Ini... kenapa...? Ada apa...?" tanya Rumi dengan degup jantung yang tak dapat ia sembunyikan.
"Gak kok. Gak ada apa-apa." Kata Devan. "Kita lagi syuting." lanjut Devan lagi.
"Serius...?" tanya Rumi tak percaya.
Devan tertawa. "Kamu gampang diculik ya emang."
Rumi pun hanya garuk-garuk kepala.
Hening.
Canggung.
"Ehm.. Rumi." Kata Devan.
"Rumi... sebelumnya... aku mau minta maaf sama kamu." Lanjut Devan lagi.
"Minta maaf kenapa?" tanya Rumi bingung.
"Dulu udah ninggalin dan nyakitin kamu."
Rumi pun tertawa kecil.

"Udah lama banget itu, aku juga udah lupa rasa sakitnya."
"Kalo inget kejamnya aku yang udah ninggalin kamu, rasanya aku mau ngerutuk diri aku sendiri." Kata Devan menunduk.
"Udah gak usah diinget." Kata Rumi menenangkan.

*play (video) nya*
"Rumi... bertahun-tahun aku nyoba nyari pengganti kamu. Bertahun-tahun aku nyoba buat jatuh cinta lagi. Bertahun-tahun aku nyoba buat ngelupain kamu. Dan... bertahun-tahun itu pula aku gagal." Kata Devan masih menunduk.
"Aku mungkin sempet kesel, gondok atau apapun lah sama kamu. Tapi tetep aja. Rasanya masih sama, Rumi. Aku masih sayang sama kamu."
"Mungkin dari dulu aku sering bilang ini, tapi ini benar adanya Rumi; you're the first girl that caught my attention. An alpha, a cheerful girl, a tough girl who has beautiful smile all the time and have a heart that made from gold. You're still the one in a billion, Rumi. I have to tell you this anymore because I love you more than I love myself, because you have taken my whole life, there's nothing left I could say but...."
Devan tiba-tiba berlutut dan mengeluarkan cincin.
"Will you marry me, Rumi?"
Sinar mentari yang mulai naik di ufuk timur pun langsung menyinari. Rumi terkesiap. Ia menangis tak percaya. Seluruh teman-temannya dan teman-teman Devan disini. Menjadi saksi bagaimana Devan melamarnya.
"Aku mungkin penuh kekurangan, Rumi. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik nantinya, juga menjadi ayah yang hebat buat anak-anak kita."
Rumi pun kembali menangis. Sejak kapan Devan jadi se-visioner ini?
"Dan udah jadi resiko aku untuk menerima kekurangan kamu, Rumi. Nanti, aku akan selalu mendukung kelebihan-kelebihan kamu." Lanjut Devan lagi tersenyum menatap Rumi.
"Rumi... maafin aku yang dulu. Maafin aku yang pernah nyakitin kamu. Maafin aku yang pernah ninggalin kamu. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu depresi sendirian dalam kekosongan. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu bercumbu dengan kenangan. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu tersiksa dengan sikap gak peduliku. Maafin aku yang dulu bocah dan kekanak-kanakan, Rumi. Maafin aku... Maafin semua kekurangan dan kesalahan aku."
"Tapi tolong percaya aku sekarang. Aku kayak gitu untuk mencapai semua mimpi aku, Rumi. Supaya aku semakin pantas untuk bersanding dengan kamu. Supaya aku semakin pandai membahagiakan kamu."
Rumi terkesima.
"Aku tau kamu udah nelen banyak pil pahit kehidupan. Banyak guncangan kehidupan yang udah kamu rasain. Sampai kamu lupa rasanya perih dan menjelma menjadi perempuan yang tangguh seperti sekarang ini."
"Rumi... Sekarang ataupun nanti, gak usah nanya-nanya lagi kenapa aku mau sama kamu. Semuanya udah jelas. Aku mencintai kamu sepenuh hati karena pribadi kamu. Aku tulus mencintai kamu. Dengan ketulusan yang mungkin kata tulus aja gak cukup untuk menjelaskan."
Rumi mulai terisak.
"Rumi... Aku mau mencintai kamu kini dan nanti. Dari dulu... sampai detik ini dan entah sampai kapan... yang aku harap sampai maut memisahkan. Yang aku tau cuma, aku mencintai kamu, Rumi. Sekali lagi... menikahlah denganku, Rumi. Akan aku cukupkan kebutuhanmu. Akan aku penuhi keinginanmu. Sampai aku letih, sampai aku berdarah perih. Aku akan upayakan apapun agar senyum dan keceriaan kamu selalu ada buatku. Dan aku akan terus berusaha menjadi alasan dibalik itu."
Devan pun mendongakkan kepalanya dan melihat Rumi menangis tersedu-sedu.
"No.... Rumi, plis, jangan nangis. Aku gak suka." Kata Devan kembali menunduk.
Rumi pun mulai jongkok agar sejajar dengan Devan. Tangis Rumi semakin pecah hingga membuat Devan menunduk semakin dalam karena tak kuasa melihat airmata Rumi.
"Kalo kamu belum bisa maafin aku, aku wajar kok." Kata Devan lagi.
Rumi menggeleng. Masih terisak.
"De... Devan..." dengan susah payah Rumi mencoba untuk membuka suara.
"Devan... kamu... kamu gak perlu ngemis cinta dari aku, Van. Tanpa kamu minta sekalipun, perasaan aku selalu ada buat kamu." Kata Rumi berusaha menahan tangis agar tidak semakin kencang dan pilu.
"Sejak putus dari kamu... aku gak pernah niat buat nyari pengganti kamu. Hati aku selalu nolak setiap kali ada orang yang mendekat. Aku.. aku sama sekali gak tertarik sama mereka, Van. Sebaik atau se-tampan apapun orang itu." Lanjut Rumi lagi.
"Daridulu sejak putus aku selalu bertanya-tanya kapan kamu pacaran lagi... kapan kamu block seluruh kontak aku... kapan kamu akan blak-blakan ngelabrak aku kalo emang kamu udah gak cinta sama aku."
"Sakit, Van... sakit ditinggal kamu. Sakit ngelepas kamu. Sekalipun aku berhasil ngelepas kamu... aku gak pernah bisa ikhlas. Aku bahkan ngebuat imajinasi sendiri ngebayangin kamu pacaran sama cewek hits yang emang secara cover cantik kayak boneka. Terlebih sekarang kamu udah masuk ke dunia entertainment."
"Di awal-awal aku sempet nangis ngebayangin itu. Tapi lama kelamaan, entah kenapa, aku ngerasa kamu gak begitu tertarik lagi sama cewek cantik. Mungkin emang cewek cantik banyak di sekitaran kamu, tapi kayaknya cuma sebagai penyegar mata aja. Sama kayak aku. Ngeliat cowok ganteng, keren atau cowok roti sobek sekalipun, cuma sebagai penyegar mata aja. Tapi hati aku masih dan akan selalu buat kamu, Van. Muaranya kamu. Pemberhentian terakhirnya tetap kamu." Kata Rumi mulai tenang.
Devan pun mulai menatap mata bening Rumi yang memerah.
Rumi pun tersenyum.
"Devan... Aku gak perlu jawab lagi kan? Kamu udah tau jawabannya."
***

© Fajria Anindya Utami - fajanuta

Halo semua! Cuma mau bocorin aja. ini sebetulnya salah satu BAB di dalam buku yang saya buat. Ceritanya udah completed di Wattpad, yang mau baca boleh banget! Haha Saya suka part ini karena berhasil nyentuh banget biarpun udah saya baca berkali-kali hahaha. Semoga suka ya!

PS: Devan itu bukan mantan saya kok. Cuma namanya aja yang mirip ;p

SIMILAR POSTS

Rabu, 19 April 2017

Prom Night (Cerpen part of With Past)



“Mereka bilang kita punya semangat pesta yang sama; sang sanguinis yang ingin dianggap, sang sanguinis yang ingin dilihat. Semangat pesta untuk menunjukkan kebolehanmu, kebolehanku yang akhirnya menjadi kebolehan kita”


Satu minggu sudah berlalu, acara prom night akan dimulai malam ini. Sejak chat terakhir itu, Galang mendiamkan chat dari Gina. Sebetulnya, Gina ragu untuk datang ke acara prom night malam ini. Namun, ia harus hadir karena beredar kabar bagi nama-nama yang lolos ke perguruan tinggi negeri akan dibagikan piagam. Selain itu, acara ini adalah acara yang sudah banyak para siswa-siswi tunggu! Jadi ratu atau raja semalam adalah goal para siswa-siswi.

Tak ingin larut dalam kesedihan karena Galang menjadi semakin menjengkelkan, Gina pun beberapa hari sebelumnya langsung pergi bersama Yola ke boutique, me-time di salon dan nyushi di Ichiban.

Tapi, tetap saja hatinya terasa hampa. Ia sudah sangat merindukan Galang tapi Galang sama sekali tak ada itikad baik untuk menghubunginya.

Dan kini, ia sedang memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Dengan gaun panjang berwarna pink pastel berenda tersampir di bahu yang sangat melekukkan tubuh semampainya. Di tambah hair do dari sang kakak yang menunjukkan leher jenjang Gina serta make up natural yang membuat penampilannya kian menawan.

Namun, tetap saja penampilannya akan sia-sia apabila tidak ada seseorang untuk ia gandeng. Meski banyak yang ingin pergi bersama Gina, entah kenapa ia dan hatinya hanya ingin Galang seorang meski sebetulnya ia masih gondok setengah mati.

Bunyi klakson mobil tiba-tiba memekik di luar rumah Gina. Yola kah? Tapi, Gina belum memberi aba-aba untuk Yola datang ke rumahnya. Gina pun melongok ke jendela dan betapa terkejutnya ia saat melihat mobil Galang sudah bertengger cantik di depan gerbang rumahnya!

Masih dalam suasana terkejut, tiba-tiba Galang keluar dari mobilnya sudah rapi dengan suite and tie yang sangat pas untuk Galang! Oh my God, jantung Gina hampir mencelos keluar ketika melihat betapa tampannya Galang hari ini! Dengan setelan suite and tie berwarna hitam, Galang keluar mobil sambil membuka jas yang ia kenakan dan ia sampirkan di lengannya.

Tubuh Galang yang atletis pun terbentuk dengan indah dalam balutan klasik yang eye catching! Bagaimana Gina tak takut kehilangan makhluk seperti ini?? Galang pun langsung memencet bel rumah Gina hingga membuat Mbak Opi yang bekerja di rumah Gina membukanya serta mempersilakan Galang untuk masuk.


“Gina nya udah berangkat belum, Mbak?” sayup-sayup suara Galang terdengar saat berbicara dengan Mbak Opi.


Gina yang memperhatikan Galang sedaritadi dari jendela kamarnya yang mengarah langsung ke halaman rumah pun akhirnya langsung disadari Galang. Galang melirik Gina sepintas dengan senyum yang mengembang. Buru-buru Gina menghampirkan gordyn kamarnya.

Ternyata dia udah siap. Kata Galang dalam hati.


“Yuk masuk, Mas Galang. Mbak Gina lagi siap-siap kayaknya.” Kata Mbak Opi.


Galang pun memasuki rumah yang sudah biasa ia kunjungi. Pada sore hari ini suasana rumah Gina tampak sepi. Wajar lah, orang tua Gina sibuk bekerja dan kakaknya Gina, Kak Juni, biasanya tak di rumah, namun entah untuk hari ini.

Dengan ragu Gina keluar kamar dan mendapati Galang sudah duduk di sofa dan ada Mbak Opi yang sudah menyiapkan minum untuknya. Meski manyun, Gina pun langsung duduk di dekat Galang.


“Ada yang benci aku, katanya.” Kata Galang membuka suara saat Gina hendak duduk.


Gina hanya terus memainkan jari dan kukunya.


“Hey, ada yang benci aku, nih?” kata Galang lagi sambil melongok menatap Gina.


Yang ditatap pun hanya membuang muka mencoba sok cuek, padahal dalam hati ia sudah rindu setengah mati!

Dengan lembut, Galang meraih tangan Gina. Mengusapnya pelan dan tersenyum menatap Gina yang sedaritadi terus membuang muka.


“Gin, aku nya kan disini. Kok ngeliatnya ke arah itu terus?” ujar Galang.


Air mata sudah mengembung tertahan di kelopak mata Gina. Namun, kalau ia menangis, make up nya bisa hancur! Dengan keberanian yang Gina coba keluarkan, ia pun memberanikan diri menatap Galang.

Dan… sedetik kemudian…..


“Huaaaaaaaaa! Galang kamu rese!!!!!!!!! Aku kan kangen udah hampir sebulan gak ketemu kamu! Main mulu sama temen! Getol banget update sosmed tapi ngehubungin aku gak bisa!!!!!!” kata Gina meraung-raung yang tak bisa ia tahan lagi.


Galang yang melihatnya pun langsung panik menyambar tisu di meja ruang tamu Gina dan memberikan tisu itu kepada Gina.


“Heeee orang! Udah cantik juga. Make-up nya luntur deh!” pekik Galang.


“Abis kamu nyebelin!!!!” kata Gina lagi memukul-mukul tangan Galang.

Galang pun berpindah posisi lebih dekat dengan Gina lalu mulai mengelus-elus punggung Gina yang terbuka.

“Hehe, maaf ya, Sayang, aku sengaja ngediemin kamu. Abis kamu marah-marah mulu, aku males ngeladeninnya. Dari pada makin panjang, mending gak aku bales kan.” kata Galang menjelaskan.

“Tapi nyebelin!” kata Gina mulai tenang mencubiti tangan Galang.

“Ih, sakit tau dicubit-cubit!” kata Galang menahan tangan Gina.

“Aku mau peluk, Lang…. tapi nanti rambut aku rusak.” Kata Gina mulai manja.

“Iya, sini. Aku hati-hati deh biar rambut kamu gak rusak.” Kata Galang membuka diri agar Gina memeluknya.

“Ehm!” tiba-tiba suara dehaman membuat Gina urung memeluk Galang.

“Hasil karya gue itu! Awas aja kalo rusak kaga gua benerin lagi lu, Gin.” Pekik Kak Juni dari dalam rumah.

“Ada Juni?” tanya Galang kaget.

Kak Juni!” kata Gina mekankan kata ‘Kak’ karena Galang gak sopannya mulai keluar. “Iya doi lagi di rumah seharian. Ini rambut aku yang anuin dia.” Lanjut Gina lagi.

“Pfft.. anuin. Yang, kamu kalo ngomong jangan ambigu.” Ledek Galang.

“Ih maksud aku yang hair do-in rambut aku, Kak Juni.” Ulang Gina.

“Iya iya ngerti.” Kata Galang paham.

“Mau jalan kapan?” tanya Gina.

“Yakin mau jalan sekarang? Kamu gak mau ngaca dulu, gitu?” tanya Galang kembali.

Gina pun langsug buru-buru masuk kamar karena paham maksud Galang. Ia baru saja menangis dan pasti make up nya hancur total! Astaga……. Benar saja. Saat Gina melihat pantulan dirinya di cermin, mascara nya hancur total hingga membuat Gina harus pelan-pelan merapihkannya.

“Galang ih, kok, kamu gak bilang-bilang muka aku ancur begini???” teriak Gina dari dalam kamar yang tak ia sadari Galang sudah memperhatikan Gina dari pintu kamar.

“Mau make-up kamu ancur kayak apa juga, Gin, orang kalo udah cinta mah cinta aja.” Kata Galang hingga membuat Gina tersipu.

“Ih rese! Sana keluar! Malu aku ah.” Kata Gina mendorong Galang keluar dari kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

“Aku rapihin dandanan dulu trus nanti kita langsung jalan ya.” Kata Gina bersandar di balik pintu kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Galang benar-benar pria idamannya!

“Oke. Aku tunggu di ruang tamu ya, Gin. Harus cepet loh.” Timpal Galang.

Dengan sigap, Gina langsung membenahi make-up nya. Dalam hitungan menit, make-up Gina pun sudah rapih total. Ia pun langsung menyambar high heels silver miliknya besert clutch silver dari dalam lemarinya. Dengan anggun, Gina melangkah keluar kamar dan menuju ke ruang tamu.

Galang pun terkesima dengan aura anggun yang Gina keluarkan. Dengan bangga, Galang langsung berdiri dan menawarkan lengan kokohnya untuk digamit oleh Gina. Gina tertawa kecil melihat Galang berlaga seperti pangeran dari negeri dongeng. Gina pun menggamit lengan Galang sambil berjalan keluar rumah bak seorang putri kerajaan.

“Kak Juni, aku jalan ya.” Teriak Gina kepada kakaknya.

“Yooo, hati-hati, Lang.” balas Kak Juni sambil meminta Galang untuk berhati-hati.

Tunggu… ada yang berbeda. Cara Galang melihat Gina sedikit berbeda. Ada apa ini? Ah, paling hanya karena mereka habis bertengkar. Pikir Kak Juni.

***

Sepanjang perjalanan, Galang membiarkan Gina menyetel musik kesukaannya. Gina terus berdendang ceria karena suasana hatinya sudah amat membaik berkat Galang yang menjemputnya.
Eh, tunggu! Gina lupa sesuatu…. Ah, Yola! Ia belum memberitahu Yola bahwa ia pergi ke prom night malam ini bersama Galang!

Di saat yang bersamaan, ponsel Gina pun berdering tanda telepon masuk. Yola meneleponnya!

“Hal…”

“Heh, Nenek Lampir! Gak bilang-bilang berangkat sama Galang. Gue tadi ke rumah lu dan kata Kak Juni lu udah jalan sama Galang! Dasar lu ya giliran udah baikan temen dilupain!” kata Yola diseberang telepon langsung mencak-mencak.

“Yola sayangku maaf!! Lupa banget soalnya tadi pas Galang dateng, gue nangis trus benerin make-up deh. Maaf sayang!” kata Gina meminta maaf.

“HHHH… Iya iya. Syukur deh kalo lu sama Galang udah baik-baik aja. Jangan uring-uringan lagi, oke?” pinta Yola.

“Oke!”

“Dah, ya, ketemu disana.” Kata Yola yang langsung menutup teleponnya.

“Di omelin Yola kamu ya?” kata Galang terkikik.

“Iya… gara-gara lupa bilang berangkat sama kamu, padahal tadinya aku mau berangkat sama dia.” Jawab Gina sambil meletakkan ponselnya kembali ke dalam clutch.

Galang dan Gina mendadak diam pekat. Hanya alunan High Hopes dari Kodaline yang mengisi aura di dalam mobil. Gina pun hanya memandang keluar jendela.

Selang beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di Hotel Carlton, tempat prom night diadakan oleh penyelenggara sekolah. Usai meminta valet untuk memarkirkan mobil Mercedes Benz milik ayah Galang, ia dengan Gina pun memasuki hotel dan langsung menuju ke hall di lantai tiga.

Setibanya di hall, suasana hiruk pikuk pesta langsung menyambut mereka. Lagu-lagu masa kini bermain hingga menghidupkan suasana. Terlihat DJ Riri sedang bersiap-siap untuk acara puncak nanti. Teman-teman Galang dan Gina pun langsung menyambut riuh mereka.

“Duh, udah baikan nih ceritanya? Jangan galau mulu, Gin, kalo ditinggal Galang main. Entar kehilangan Galang beneran loh.” Kata Mona yang hanya dibalas senyuman dari Gina.

“Eh foto di photobooth gih kalian! Pasangan ter-serasi tahun ini!” kata Vivi sok hebring.

“Iya iya gampang, nanti aja.” Timpal Galang.

“Foto sekarang aja yuk, Lang, entar keburu rame.” Ajak Gina yang dituruti oleh Galang.

Acara demi acara pun dimulai sampai tak terasa sudah diujung acara dan terkesiaplah Gina dan Galang saat mereka ditunjuk sebagai The Queen and The King of Prom Night 2013. Orang-orang sudah tak meragukan hal itu lagi mengingat mereka memang pantas mendapatkannya.

Usai acara jam setengah dua belas malam, tiba-tiba Galang menarik Gina ke dalam lift dan mereka menuju ke lantai lima. Meski kebingungan, Gina terus mengiringi langkahnya dengan Galang hingga tiba di depan kamar bernomor 520.

“Kita istirahat disini ya, Gin, malam ini.” kata Galang sambil menarik tangan Gina memasuki Sweet VIP Room.

Jantung Gina berdetak tak karuan. Hampir mencelos. Bagaimana bisa Galang sudah men-check in kamar ini tanpa persetujuan darinya? Gina pikir ia akan langsung dibawa pulang oleh Galang atau mungkin akan diajak ke restoran mewah dulu. Namun, diluar dugaan, Galang malah membawa Gina ke kamar yang…. Lebih cocok untuk pasangan pengantin baru.
Perasaan Gina mulai tak enak.

“Lang, aku mau pulang.” Kata Gina tegas melepaskan genggaman Galang. Namun Galang malah semakin menggenggamnya lebih kuat lagi.

“Lang, plis, aku emang sayang sama kamu, tapi kita gak harus kayak gini sebelum waktunya!” kata Gina mencoba memberi pengertian.

Ia sadar mereka sudah delapan belas tahun. Sudah mulai ada rasa penasaran akan hal-hal seperti ini dan menganggap diri mereka sudah mulai dewasa. Tapi…. bukan seperti ini caranya.

“Aku gak akan ngapa-ngapain kamu, Gin. Kita cuma istirahat. Aku berani jamin keamanan kamu.” Kata Galang menatap Gina lekat-lekat.

“Enggak, Lang. Kalo setan lewat, hal yang gak diinginkan bisa aja terjadi. Kamu tidur aja disini malam ini, ya. Aku mau pulang.” Kata Gina melepas genggaman Galang dengan perlahan.

Tak terduga, Galang langsung memeluknya dari belakang.

“Tadi kamu bilang kita udah hampir satu bulan gak ketemu, kan? Kamu bilang, kamu kangen aku, kan? Aku juga sama, Gin. Aku mau ngabisin waktu lebih banyak lagi sama kamu.” Kata Galang berbisik ditelinga Gina.

“Iya aku ngerti. Tapi kan masih ada besok-besok, Lang.” timpal Gina mengusap lembut tangan Galang yang melingkar di lehernya dan sesekali mengecup pipi Galang.

Besok-besok? Entah kenapa Gina meragukan kalimat itu. Galang pun melepas pelukannya.

“Yaudah, yuk. Aku antar kamu pulang.” Kata Galang.

Akhirnya, Gina pun pulang diantar Galang. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah Gina. Gina pun hendak turun dari mobil Galang, namun sebelumnya ia mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Galang.

Namun…….

Galang menjauh.

Gina dapat merasakan ada benteng yang berusaha Galang bangun. Mungkinkah Galang marah padanya karena ia menolak untuk ‘istirahat’ dengannya di kamar hotel? Ah, gak mungkin.

Dengan ragu, Gina pamit dan keluar dari mobil Galang. Galang pun memutar balik mobilnya dan langsung menancap gas dengan kekuatan penuh seakan-akan ia sedang kesal terhadap sesuatu.

Lang…….. kenapa?

***

Hula!!! Kembali lagi dengan salah satu BAB di buku yang saya buat dengan judul With Past. Sudah ada di Wattpad
Tapi belum completed alias masih on going! HEHEHE
Semoga suka ya! Lots of love! 

Selasa, 18 April 2017

Berhenti Menangisiku (Cerpen)



Suatu senja di lain semesta, di suatu rerumputan nan hijau bersama sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras dan menyejukkan. Seorang gadis berambut hitam panjang sedang memohon kepada sesosok malaikat putih. Gaun merah mudanya tertiup angin hingga menampakkan betis mungilnya yang putih. Sang malaikat melihatnya nyaris tanpa ekspresi.


"Tolong lah aku, Malaikat. Katakan kepada Dewa bahwa aku ingin segera menemuinya. Sudah hampir setahun aku tersiksa karenanya, karena air matanya. Sungguh menyiksaku!" Ucap gadis anggun itu.



"Baiklah, aku tak ingin berjanji kepadamu. Tapi, akan Ku usahakan yang terbaik."


Seketika, malaikat itu menghilang.


"Terima kasih banyak, Malaikat Putih!" Teriak gadis anggun itu kepada langit yang kosong.

Suaranya memenuhi semesta penuh harapan. Lalu, ia berjalan menuju sungai dan duduk di sebuah batu yang besar. Ia memandang sungai yang sangat jernih dan bening hingga ia bisa melihat dasar sungai tersebut.

Hingga seketika,


"Aww!" Jantungnya yang telah mati terasa hidup kembali karena rasa sakit yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.


Ia kembali menatap sungai yang jernih itu. Ia yakin, semuanya akan berakhir.

***

Tok tok tok.

Ketukan pintu pun ia hiraukan. Ia kembali menangis tadi pagi hingga tertidur. Matanya hitam bagai seekor panda, rambutnya gondrong dan acak-acakan.


"Erza! Buka pintunya! Lo udah seharian gak keluar kamar!" Teriak suara seorang wanita dari luar kamar kost Erza.


Klik.

Erza membuka pintu dengan keadaan setengah sadar.


"Oh, Zora. Kenapa?" Tanyanya malas.



"Lo belom makan seharian kan? Ayo kita makan!" Ajak Zora menarik tangan Ezra.


Alih-alih menjawab, Ezra menepis tangan Zora. Ia pun kembali masuk. Tak lama kemudian ia kembali keluar dengan mengenakan jaket cokelat yang dekil.


"Gak usah, terima kasih." Akhirnya Erza menjawab.



"Hei, lo mau kemana?" Tanya Zora ketika lawan bicaranya berjalan melewati dirinya, "Plis, jangan mie ayam lagi!" Lanjutnya tetapi lawan bicaranya semakin menjauh.


Erza berjalan dengan tatapan kosong. Ia berjalan tanpa henti, berbelok jika perlu dengan terus berjalan. Hingga akhirnya, ia masuk ke tenda penjual mie ayam.


"Pak, mie ayam seperti biasa ya." Ia pun duduk di kursi yang telah disediakan dengan tatapannya yang kembali kosong.


***


"Bagaimana, Malaikat?" Tanya gadis anggun itu penasaran ketika sesosok malaikat putih menghampirinya.



"Kau diperbolehkan menemuinya." Ucap malaikat itu datar.



"Benarkah???? Terima kasih banyak!" Ucapnya senang bukan main.



"Tetapi dengan beberapa syarat."



 "Syarat? Kupikir akan mudah. Apa saja syaratnya?" Tanya nya sedikit jengkel.



"Kau hanya diperbolehkan menemuinya sampai jam enam sore waktu setempat. Kau harus segera berusaha menyampaikan pesanmu padanya. Jika kau menginginkan dia untuk melihatmu, Dewa akan mengizinkannya tapi kau akan lupa tujuanmu datang padanya. Jadi, sebaiknya kau sampaikan pesanmu secara tersirat karena akan sia-sia saja jika ia melihatmu namun kau melupakan tujuanmu. Omong-omong, apa sebenarnya tujuanmu untuk menemuinya?"


Gadis anggun itu melongo, ia hampir tak mendengar pertanyaan malaikat.


"A-aku hanya ingin ia untuk berhenti menangisiku,"


***

Pukul 19.00

Setelah selesai makan mie ayam, Erza berjalan lurus tanpa ragu. Tatapannya masih kosong, entah apa yg ia pikirkan. Hingga akhirnya, ia berhenti di depan sebuah makam. Ia menatap gapura makam tersebut, dilihatnya sebuah nama "Makam Ratu Ayu" lalu ia memasuki makam tersebut.

Langkahnya tegas, tatapannya tajam di gelapnya malam, meski berkali-kali ia menginjak daun kering dan ranting yang rapuh. Ia tak peduli, ia hanya ingin menemui sahabatnya --sekaligus cinta pertamanya. Hingga akhirnya, ia berhenti di sebuah batu nisan dan berjongkok mengelus batu tersebut.


"Halo, Anna. Apa kabar?" Lirihnya menahan tangis.



"Gue... Gue bener-bener gak bisa maafin diri gue sendiri, An. Udah hampir setahun kepergian lo tapi gue masih belum bisa terima. An, gue kangen lo!" Air mata mulai menetes di pipi tirus Erza.

Tiba-tiba sosok bergaun merah muda muncul di hadapan Erza.


"Pantes jantung gue sakit lagi. Lo nangisin gue! Plis, Erza, stop! Lo gak tau betapa tersiksanya gue." Teriak sosok bergaun merah muda itu.



"Andai gue gak berniat nembak lo saat Valentine. Andai kita gak janjian di taman itu. Pasti.. Pasti lo masih ada sampe sekarang. Gara-gara gue, lo kehilangan cita-cita lo sebagai dokter. An, maafin gue....." Erza mulai terisak dan Anna semakin tersiksa.



"Anna, kalau lo ada disini, gue bakal ajak lo ke kamar kost gue. Kita nonton film bareng, dan di saat gue ketiduran, lo dengan apiknya ngbeberesin kamar gue yang... Yang berantakannya udah mirip kapal pecah. An, lo pasti liat gue kan? Gue.. Gue gak pernah bisa berhenti nangis kalau udah nangisin lo. Maafin gue, An. Gue.. Gue bener-bener kangen sama lo. An.. Gue sayang lo... An... Huhuhu" tangis Erza memeluk batu nisan milik Anna.


Anna mulai pilu melihat Erza. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Erza, ia mulai menatapnya dengan seksama. Dagu lancipnya, hiding mancungnya, kulit eksotisnya—tidak berubah. Namun, satu hal yang membuat Anna kesal, rambutnya gondrong untuk ukuran laki-laki. Rasanya, Anna ingin menjambaknya.


"An.. Hiks. Lo tau gak kenapa rambut gue jadi gondrong seperti ini?" Anna mendelik. Erza seakan-akan tau pikirannya.



"Karena.... Gue kangen ketika jari-jari lo menyusup masuk ke sela-sela rambut gue dengan gemas. An.. Jambak gue dong." Lanjutnya sambil menjambak rambutnya frustasi.



"Dasar bodoh! Gue gak bisa jambak lo lagi, Erza. Bodoh! Erza bodoh! Jangan nangis lagi di makam gue, Za. Itu cuma bikin gue tersiksa!" Ucap Anna kesal mulai menangis.



"An, gue ngerasa lo deket sama gue. Kayak.... seakan-akan lo ada di samping, bahkan di hadapan gue." Ucapnya tersenyum, setetes air mata menetes jatuh ke tanah makam milik Anna.



"Huuuu. Erza!!!!" Anna melompat memeluk Erza.



"Aduh!!!" Ternyata tubuh Anna menembus tubuh Erza dan seketika ia jatuh terjerembap ke tanah.



"Udara semakin dingin, An. Gue rasa, gue harus segera pulang. Besok gue kesini lagi kok. Dah, Anna." Ucap Erza seraya mencium batu nisan Anna.



"Erza tunggu!! Gue ikut!!" Anna segera bangkit dan berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Erza.


Kini, ia berada di samping Erza. Ia menoleh dan mulai mengamati Erza. Lalu, ia melihat ke menara jam yang besar di tengah kota.


"Baru jam 9 malam? Baik lah, waktu yang kumiliki masih banyak. Aku pasti bisa memanfaatkannya! Pokoknya Erza gak boleh nangisin aku lagi!"


Erza memasuki kamar kost miliknya. Mendadak, ia ingin sekali menonton film kartun favorit Anna. Ia mengambilnya lalu mulai menyetelnya.

Anna pun terkesiap saat melihat kamar Erza.


"Erza... Kamar lo. Bener-bener kapal pecah! Bahkan gak ada ruang buat gue duduk."


Born of cold in winter air and mountain rain combining....


"Whoah!!!!! Frozen!!!!" Anna kegirangan melihat apa yang ada dilayar TV berukuran 24inch itu.

Akhirnya Anna duduk dan menonton film kartun favoritnya bersama Erza.

Anna menoleh hendak ingin melihat Erza, namun ternyata Erza sudah tertidur. Anna menatap Erza dengan seksama, seketika jantungnya yang telah mati kesakitan. Dan, dilihatnya setetes air mata menjatuhi pipi Erza.


"Erza, plis.. kapan lo mau berhenti nangisin gue?"

***

Lombok (Cerpen)

"He? Cabe? Erica? Ngapain??? Kok gak bilang?" tanya Rumi terkaget-kaget saat melihat Cabe dan Erica sudah nangkring di kamarnya bersama koper.
"Akhirnya datang juga. Yuk caw. Gue udak pack-in barang lu." Kata Cabe seraya menarik koper dan tangan Rumi.
"Caw? Caw kemana?"
Cabe pun menunjukkan tiket menuju Lombok. "Ke kampung gua,"
"Lu gila? Gue senin masih kerja!" kata Rumi masih kebingungan.
"Elah kerja mulu lu. Liburan lah kali-kali. Ayo ah buru! Flight jam 1 nih kita." Kata Cabe lagi masih menarik Rumi.
Rumi pun terseret-seret ditarik Cabe.
"Mbuy, kamu diem aja. Ini kenapa?? Ada apa?"
Erica pun hanya tersenyum. "Nurut aja sama kita ya."
Rumi mengernyit. Ia kebingungan dengan sikap Cabe dan Erica. Nempel pantat aja belum, udah harus pergi lagi.
"Hati-hati ya, Mbak." Kata Ayah nya keluar kamar. "Bawa oleh-oleh kalo sempet." Kata Ibu nya tiba-tiba.
"I.. Iya.."
"Pamit, Abi, Umi..." kata Cabe sok akrab.
"Mang emak bapak lu?"
"Iyalah kakak ipar. Ayang gua aja tadi gua kelonin di kamarnya."
"Alig lu dasar."
"Be, buruan deh. Taxi nya udah nungguin." Kata Erica menyela.
"Iye iye. Yuk buru."
Rumi kebingungan. Ia pun hanya menurut dan langsung duduk di dalam taxi serta membiarkan Erica dan Cabe memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.
Ini kenapa?? Ada apa????

***

Bandar Udara Internasional Lombok pukul 4 pagi
"Mbuy, Cabe.. ini pagi buta. Kita mau kemana?"
"Udah, aman pokoknya."
Rumi pun hanya menuruti kata-kata Erica dan Cabe. Ia tak tau harus apa, hanya mengikuti mereka berdua hingga mobil pribadi –yang Rumi yakini adalah mobil sewaan, mobil itu pun membawa mereka ke pantai yang sepi di dini hari.

Rumi kembali celingukan, masih bingung dengan apa yang terjadi. Hingga tiba-tiba matanya ditutup oleh selembar kain dan ia tak bisa melihat apapun kecuali kegelapan.
"Eh eh eh... ulang tahun gue masih lama! Kok gue ditutup gini kayak mau dapet surprise aja???"
"Udah pokoknya lu keluar dari mobil sekarang!" kata Cabe tiba-tiba galak.
"Iya iya..."
"Ikutin kita," kata Erica menarik tangan Rumi.
"Iya iya..."
Suara deburan ombak pun terus menggema di telinga Rumi. Dan Rumi masih kebingungan ia akan dibawa kemana. Masa sih teman-temannya akan mendorong dia ke laut? Gak mungkin kan.
Setelah sekian lama berjalan tiba-tiba langkah Rumi terhenti. Lalu, Erica yang sedaritadi menuntunnya tiba-tiba melepaskan genggaman dan meninggalkan Rumi sendirian.

"Be.... Erica....?" Panggil Rumi sambil menggapai-gapai dengan jemarinya.
"Eh... kalian.... Kok diem?" Rumi masih bersuara.
"Eh... Kok sepi sih? Jangan sampe gue joget Caesar nih." Oceh Rumi lagi.
"Gue buka ya???"
"Cabe....? Kalo gue buka lu marah gak...?"
Masih juga tak ada jawaban.
"Oke gue buka ya..."
Rumi pun membuka penutup matanya.

Jeng jeng....

Di hadapannya kini ada sebuah layar putih besar dengan proyektor. Dalam sekejap, tiba-tiba sebuah video pun diputar.
"Halo!!!"
Itu adalah Rumi sewaktu remaja.
"Kita lagi dimana?" tanya Devan yang berada disamping Rumi.
"Di curug cilember! Adaw..." jawab Rumi yang langsung merintih sok sakit saat Devan menggerakan kepala Rumi agar menyender di pundak Devan.
"Di beliin gelaaang.." kata Rumi lagi.
"Murah gelangnya..." timpal Divan.
"Cuma goceng! Haha."
Rumi terkesiap menonton video yang diputar. Air matanya menetes begitu saja melihatnya. Itu adalah video yang sempat Rumi dan Devan buat sewaktu mereka pergi ke Curug Cilember.
"Kayaknya... ada orang yang mau dilamar. Daritadi ada tulisan ini. Aku juga mau dilamar disini!" kata Rumi di depan kamera saat melihat tulisan ‘I love you’ dari karangan bunga.
"Kodeeeeeee keras!" timpal Devan.
Menonton itu, Rumi pun tertawa dalam tangisnya. Ya ampun, ini pasti kerjaan Devan!
Hingga video itu pun habis dan muncul lah Devan dalam video.
"Rumi... maaf gak bisa bawa kamu ke Curug Cilember lagi. Aku... takut..." kata Devan.
"Aku pernah baca postingan Tumblr kamu. Kamu bilang, waktu kamu masih pacaran sama Rusdi, bulan Agustus kamu ke Curug Nangka dan bulan Oktober kalian putus. Terus, kita ke Curug Cilember bulan Mei, dan putus di bulan Juli. Jaraknya sama... dua bulan." Kata Devan di dalam Video.
"Bukannya aku kolot dengan percaya hal-hal kayak gitu, tapi aku menghindari hal yang gak aku pengen. Mungkin kamu gak begitu suka pantai dan lebih suka air terjun, tapi kalo boleh jujur, aku lebih suka pantai. Makanya sekarang, disini... di tempat yang aku suka, aku akan......"
Zleb.... tiba-tiba video tersebut mati.

Rumi pun celingukan dan penasaran ada apa... lalu layar putih besar itu pun jatuh ke pasir dan ada seseorang dalam kegelapan yang sudah berdiri disana hingga membuat Rumi semakin terkesiap.
Devan.

 Ia berjalan menghampiri Rumi. Dan dalam satu jentikan jari, tiba-tiba suasana ramai. Di sisi Rumi, teman-temannya ramai berkumpul. Lalu di sisi Devan, ramai pula teman-temannya.

Angin pantai saat dini hari pun terus berhembus yang dinginnya sampai menusuk kulit meski Rumi selalu memakai pakaian yang tertutup mulai dari kepala hingga kaki yang hanya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.

Devan pun semakin mendekat hingga akhirnya ia dapat sejajar dengan Rumi.

Pada dini hari ini, Devan terlihat cukup tampan dengan setelan kemeja yang digulung dan celana jeans santai. Rambutnya tetap sama, selalu ia usahakan untuk rapih padahal daridulu Rumi suka rambut Devan yang acak-acakan.

Devan pun tersenyum.
"Ini... kenapa...? Ada apa...?" tanya Rumi dengan degup jantung yang tak dapat ia sembunyikan.
"Gak kok. Gak ada apa-apa." Kata Devan. "Kita lagi syuting." lanjut Devan lagi.
"Serius...?" tanya Rumi tak percaya.
Devan tertawa. "Kamu gampang diculik ya emang."
Rumi pun hanya garuk-garuk kepala.
Hening.
Canggung.
"Ehm.. Rumi." Kata Devan.
"Rumi... sebelumnya... aku mau minta maaf sama kamu." Lanjut Devan lagi.
"Minta maaf kenapa?" tanya Rumi bingung.
"Dulu udah ninggalin dan nyakitin kamu."
Rumi pun tertawa kecil.

"Udah lama banget itu, aku juga udah lupa rasa sakitnya."
"Kalo inget kejamnya aku yang udah ninggalin kamu, rasanya aku mau ngerutuk diri aku sendiri." Kata Devan menunduk.
"Udah gak usah diinget." Kata Rumi menenangkan.

*play (video) nya*
"Rumi... bertahun-tahun aku nyoba nyari pengganti kamu. Bertahun-tahun aku nyoba buat jatuh cinta lagi. Bertahun-tahun aku nyoba buat ngelupain kamu. Dan... bertahun-tahun itu pula aku gagal." Kata Devan masih menunduk.
"Aku mungkin sempet kesel, gondok atau apapun lah sama kamu. Tapi tetep aja. Rasanya masih sama, Rumi. Aku masih sayang sama kamu."
"Mungkin dari dulu aku sering bilang ini, tapi ini benar adanya Rumi; you're the first girl that caught my attention. An alpha, a cheerful girl, a tough girl who has beautiful smile all the time and have a heart that made from gold. You're still the one in a billion, Rumi. I have to tell you this anymore because I love you more than I love myself, because you have taken my whole life, there's nothing left I could say but...."
Devan tiba-tiba berlutut dan mengeluarkan cincin.
"Will you marry me, Rumi?"
Sinar mentari yang mulai naik di ufuk timur pun langsung menyinari. Rumi terkesiap. Ia menangis tak percaya. Seluruh teman-temannya dan teman-teman Devan disini. Menjadi saksi bagaimana Devan melamarnya.
"Aku mungkin penuh kekurangan, Rumi. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik nantinya, juga menjadi ayah yang hebat buat anak-anak kita."
Rumi pun kembali menangis. Sejak kapan Devan jadi se-visioner ini?
"Dan udah jadi resiko aku untuk menerima kekurangan kamu, Rumi. Nanti, aku akan selalu mendukung kelebihan-kelebihan kamu." Lanjut Devan lagi tersenyum menatap Rumi.
"Rumi... maafin aku yang dulu. Maafin aku yang pernah nyakitin kamu. Maafin aku yang pernah ninggalin kamu. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu depresi sendirian dalam kekosongan. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu bercumbu dengan kenangan. Maafin aku yang pernah ngebuat kamu tersiksa dengan sikap gak peduliku. Maafin aku yang dulu bocah dan kekanak-kanakan, Rumi. Maafin aku... Maafin semua kekurangan dan kesalahan aku."
"Tapi tolong percaya aku sekarang. Aku kayak gitu untuk mencapai semua mimpi aku, Rumi. Supaya aku semakin pantas untuk bersanding dengan kamu. Supaya aku semakin pandai membahagiakan kamu."
Rumi terkesima.
"Aku tau kamu udah nelen banyak pil pahit kehidupan. Banyak guncangan kehidupan yang udah kamu rasain. Sampai kamu lupa rasanya perih dan menjelma menjadi perempuan yang tangguh seperti sekarang ini."
"Rumi... Sekarang ataupun nanti, gak usah nanya-nanya lagi kenapa aku mau sama kamu. Semuanya udah jelas. Aku mencintai kamu sepenuh hati karena pribadi kamu. Aku tulus mencintai kamu. Dengan ketulusan yang mungkin kata tulus aja gak cukup untuk menjelaskan."
Rumi mulai terisak.
"Rumi... Aku mau mencintai kamu kini dan nanti. Dari dulu... sampai detik ini dan entah sampai kapan... yang aku harap sampai maut memisahkan. Yang aku tau cuma, aku mencintai kamu, Rumi. Sekali lagi... menikahlah denganku, Rumi. Akan aku cukupkan kebutuhanmu. Akan aku penuhi keinginanmu. Sampai aku letih, sampai aku berdarah perih. Aku akan upayakan apapun agar senyum dan keceriaan kamu selalu ada buatku. Dan aku akan terus berusaha menjadi alasan dibalik itu."
Devan pun mendongakkan kepalanya dan melihat Rumi menangis tersedu-sedu.
"No.... Rumi, plis, jangan nangis. Aku gak suka." Kata Devan kembali menunduk.
Rumi pun mulai jongkok agar sejajar dengan Devan. Tangis Rumi semakin pecah hingga membuat Devan menunduk semakin dalam karena tak kuasa melihat airmata Rumi.
"Kalo kamu belum bisa maafin aku, aku wajar kok." Kata Devan lagi.
Rumi menggeleng. Masih terisak.
"De... Devan..." dengan susah payah Rumi mencoba untuk membuka suara.
"Devan... kamu... kamu gak perlu ngemis cinta dari aku, Van. Tanpa kamu minta sekalipun, perasaan aku selalu ada buat kamu." Kata Rumi berusaha menahan tangis agar tidak semakin kencang dan pilu.
"Sejak putus dari kamu... aku gak pernah niat buat nyari pengganti kamu. Hati aku selalu nolak setiap kali ada orang yang mendekat. Aku.. aku sama sekali gak tertarik sama mereka, Van. Sebaik atau se-tampan apapun orang itu." Lanjut Rumi lagi.
"Daridulu sejak putus aku selalu bertanya-tanya kapan kamu pacaran lagi... kapan kamu block seluruh kontak aku... kapan kamu akan blak-blakan ngelabrak aku kalo emang kamu udah gak cinta sama aku."
"Sakit, Van... sakit ditinggal kamu. Sakit ngelepas kamu. Sekalipun aku berhasil ngelepas kamu... aku gak pernah bisa ikhlas. Aku bahkan ngebuat imajinasi sendiri ngebayangin kamu pacaran sama cewek hits yang emang secara cover cantik kayak boneka. Terlebih sekarang kamu udah masuk ke dunia entertainment."
"Di awal-awal aku sempet nangis ngebayangin itu. Tapi lama kelamaan, entah kenapa, aku ngerasa kamu gak begitu tertarik lagi sama cewek cantik. Mungkin emang cewek cantik banyak di sekitaran kamu, tapi kayaknya cuma sebagai penyegar mata aja. Sama kayak aku. Ngeliat cowok ganteng, keren atau cowok roti sobek sekalipun, cuma sebagai penyegar mata aja. Tapi hati aku masih dan akan selalu buat kamu, Van. Muaranya kamu. Pemberhentian terakhirnya tetap kamu." Kata Rumi mulai tenang.
Devan pun mulai menatap mata bening Rumi yang memerah.
Rumi pun tersenyum.
"Devan... Aku gak perlu jawab lagi kan? Kamu udah tau jawabannya."
***

© Fajria Anindya Utami - fajanuta

Halo semua! Cuma mau bocorin aja. ini sebetulnya salah satu BAB di dalam buku yang saya buat. Ceritanya udah completed di Wattpad, yang mau baca boleh banget! Haha Saya suka part ini karena berhasil nyentuh banget biarpun udah saya baca berkali-kali hahaha. Semoga suka ya!

PS: Devan itu bukan mantan saya kok. Cuma namanya aja yang mirip ;p