College Life Part 1



ANA POV’s

Earphone yang mengganjal di telingaku mulai memenuhi syaraf otak dikepalaku. Mungkin, di bagian otak kananku sudah dipenuhi dengan playlist favorit yang sering dikumandangkan. Dengan langkah gontai aku memasuki kelas baru yang entah siapa yang akan menjadi teman, sahabat atau bahkan –ehm, pacarku nantinya. Mungkinkah akan ada pria spesial disana?

Tanpa ragu, aku menduduki kursi paling depan yang berada di kelas ini. Bukan, bukannya aku mau ‘sok pintar tapi memang hanya tersisa kursi itu dan aku malas kalau harus berkeliling kebelakang mencari kursi yang kosong.

Saat aku duduk, ada seorang wanita berambut sebahu di samping kananku dan ada seorang wanita berambut pirang di samping kiriku. Mereka mengobrol disaat aku ada ditengah-tengah mereka. Bukankah itu menjengkelkan?

Lagi, aku hanya bisa diam mendengarkan alunan Locked Away nya Adam Levine ft. R. City. Dan aku pun hanya menunduk melihat sepatuku yang tak kusadari ternyata talinya lepas sedaritadi. Alih-alih mengaitkannya kembali, aku malah mendiamkannya dan cenderung menggoyang-goyangkannya.

Namun, ada hal aneh saat aku mulai tegak memandang di hadapanku. Ada seorang pria disana yang sepertinya baru saja memperhatikanku. Hmm gak mungkin sih ya sepertinya aku hanya berkhayal.
Dan seorang dosen pun memasuki kelasku.

REMY POV’s


Gila kali kalau setiap hari harus naik tangga sampai lantai 5! Ada lift, sih, tapi cuma untuk rektor, wadafak men! Anak tangga demi anak tangga pun harus gue tempuh dari lantai 1 dan disaat-saat seperti inilah saatnya gue berharap punya pintu kemana sajanya Doraemon.

Saat menginjak lantai 4, gue bara aja sadar ada cewek dengan muka masam berjalan mendahului gue. Rambut panjang hitam yang digerainya tetap gak bisa menutupi earphone yang ia kenakan. Entah kenapa, gue mendadak merasakan sesuatu yang menarik akan terjadi dan tanpa sadar, gue menyunggingkan senyum termanis yang pernah gue miliki.

Gue pun melanjutkan perjalanan, lalu tiba lah gue dilantai 5, saat memasuki kelas, di bangku paling depan –gue antara terkejut dan enggak terkejut, sih, lantaran entah kenapa gue udah yakin aja cewek yang tadi gue temuin di lantai 4 bakal menjadi teman sekelas gue. Ya jelas aja sih, di topi OSPEK nya ada angka 5! Hahahaha.

Untung aja saat gue perhatiin, dia sedang sibuk ngedumel (maksud gue nyanyi-nyanyi gak jelas lantaran earphone ditelinganya terlihat masih mengeluarkan suara) sambil meratapi tali sepatunya yang lepas. Dan tiba-tiba, dia sadar kalau gue sedang memperhatikan dia.
Dan dosen berambut hitam legam pun memasuki kelas.

To be continue…

SIMILAR POSTS

Love or Lust


My lecturer said that love can be a noun. Even tho that words can change into progressive, past and the perfect tenses, but we can feel love, can’t we? Even tho’ we can’t see it, of course. But honestly, it pretty hard for me to know am I falling in love or just I like someone.

And I think Like is the same with Lust. Do you know Lust? Yes, it’s temporarily and if we got the climax, it can go easily. Got it?

Don’t think the porn thing ok. Because I didn’t mean it.

You know, there’s so much love song. And I’ll take the examples with Pia Mia’s song with Chris Brown and Tyga –Do it Again (because this song is so easy-listened and I like it)

Hey boy, when I first met you, thought it was special

I told myself that

Okay not told myself but told you that
And I get really confuse with this part

…I bet true love was pouring

Did you know that love can come if you like someone more than 4 months? And yes, my teacher –when I was in JHS told that. And dunno why I believed it. And on that part it means Pia Mias just met and did one night stand with a man she never met before but she felt click on the first night.

Btw, I have a story to share you all. On January or February 2015 (I’m a bit forget), I got a new friends, he’s a modus man maybe and woman will fly with those words. And I am a woman, is it normal for me if I feel ‘fly’? Yes, for me it’s normal but even tho I already had a boyfriend but I can controlled it so don't worry.
On the first trimester –no, I’m not pregnant. I mean on that time I’m still waiting for him, if he didn’t chat me but then slow but sure I’m totally forget about him until on the 4th month, he chat me and I didn’t feel anything.

Does it mean I just like him, right? Okay, I am a baper woman, sometimes.

And now, I feel the same way. It feels awkward and I hate it if I know it’ll be a long day I didn’t meet him. I hope this is just a lust and I can forget him ASAP.

Even tho on Pia Mia’s song I feel the same way,
It’s nice to know you let’s do it again
*sensor*
Boy, I wanna be more than a friend to ya

Ahahaha forget it.

Btw, if you wanna know that song, let’s open this video. Pia is so beautiful!

SIMILAR POSTS

Menjadi Dewasa



When I was a kid, I used to think what will I be when I grow up. Now, just a middle-little-step to be an adult but I’m beginning to endure it.
Guys, jadi orang dewasa itu gak enak. Banyak pengeluaran, banyak tanggungan, banyak hal yang dulunya ditanggung orang tua jadi lo tanggung sendiri.

My dad stops giving me money routine a year ago since I already have a job.


Tapi semua gak seenak yang lo pikirin, maybe you’ll think ‘Gaji lo gede, men. Wajar lah kalau bokap lo udah gak ngasih lagi.’

Eits, hal ‘enak’ yang lo pikirin gak semudah itu gue dapetin.

Okay, I admit it I got one of my dream job. When I was in Junior High School, I wanna be a writer. And here I am being an article re-writer at one of viral website. But it’s not as easy as you think. Maybe I’m a lucky –some people will think like that, but actually I know this is the answer with all of the things I want when I tell Allah.

Kalau lo kira hidup gue baik-baik aja. Lo salah.

Life is an adventure.

Slogan iklan rokok itu bener loh. Hampir setahun gue ngerasain titik terendah dan titik pembelajaran serta pendewasaan di hidup gue. Mulai dari lulus sekolah farmasi tahun 2014 kemarin, gue pikir kehidupan gue akan semakin baik tapi ternyata banyak banget kerikil hidup yang gue alamin.
Mulai dari pendewasaan diri gue bahkan sampai permasalahan keluarga.

Nobody knows about this except Gusti *cieee( ・´Ð·・`)


Tempat nangis, tempat ketawa, tempat gue cerita segala hal mulai dari kepengen kentut –anjir jorok, sampe hal-hal berat kayak kangen masa lalu –serius loh segini terbukanya gue dengan Gusti- dan Gusti tau semuanya tapi tetep sabar ngadepin tingkah gue.

Okay kembali ke proses pendewasaan.

Semenjak memutuskan gakmau balik menjadi asisten apoteker alias banting stir, nyokap sempet gak sejutu karena ngerasa sayang ilmunya tapi toh segala keilmuan pasti kepake kan? Sampe sekarang juga kalau saudara atau tetangga-tetangga nanya obat masih sama gue dan Alhamdulillah gue masih inget dan bisa kejawab. Sempet cekcok, berantem adu mulut karena gue mau nunjukin ini loh jalan yang gue ambil dan plis beri keridhoan.

Ditambah dulu setelah resign dari rumah sakit gue gak langsung dapet pekerjaan enak. Harus ngerasain yang namanya gaji bulanan gak tetap. Mulai dari 100-300rb pun pernah gue rasain. Jadi, segala sesuatunya harus dari nol kayak pom bensin.
Gak deng. Quote favorite gue dari Apoteker tempat gue kerja dulu kayak gini,

“Kalau mau nyampe 100 harus mulai dari 0”


Got it? Ngerti lah ya soalnya gue males jelasin hahahampun.

And yep, sekarang, di usia 18 tahun meski baru setengah tahun ngerasain enaknya kerja, gue udah harus mulai menata hidup. Mulai dari nabung bulanan, bayar asuransi kesehatan bulanan dari pemerintah –yang ituloh inisialnya B belakangnya S tengahnya PJ- iya, gue bayar bulanannya sendiri. Ditambah bokap udah gak ngasih uang jajan rutin kan –ya, sebulan sekali minta 10rb mah dikasih- jadi gue harus pinter-pinter manage keuangan karena emang pada dasarnya wanita harus pinter ngatur keuangan. Soalnya nanti kalau nikah sama cowok yang rata-rata boros itu bisa susah deh. Trus pengeluaran pulsa internet, daily skincare, baju-baju baru, jalan sama temen, ke salon dan macam-macam yang masih pengen dirasain anak-anak muda kayak gue. Dan itu semua harus pinter-pinter gue atur kalo enggah, matilah gak ada sisa.

Untungnya sih keperluan kuliah masih dibantu bokap sampai detik ini tapi gatau deh semester depan (hah doakan yah biar dibiayai sampai lulus bahkan sampai S2)

Jadi intinya, jadi orang dewasa itu sulit makanya hidup jangan dipersulit karena emang udah sulit nanti makin sulit jadi tambah sulit.

But life’s must go on, perlahan tapi pasti nanti juga lama-lama terbiasa sama 'keras’nya dunia.
Yok se-ma-ngat!

SIMILAR POSTS

Mimpi VS. Kenyataan

All the things on your dreams is not only a dream. It's a must for you to pursue any dream what you've dream.
Kedengerannya gampang ya? Toh, tinggal mimpi trus dapetin. Tapi nyatanya? Gak semua hal yang emang lo pengen tuh bakal kesampean.
Contoh:
1. Waktu kecil gue mau jadi dokter. Alesannya? Simpel. Tiap anak  kecil dulu kalo di tanya cita-cita pasti jawabnya mau jadi dokter lah, pilot, arsitek, guru, profesi-profesi terkenal deh. Trus nyatanya? Gue takut darah. Pernah kena pisau lagi masak. Enggak, gak trauma sama pisau. Tapi darahnya itu. Ngucur deres di bak cucian piring bikin gue nangis histeris sampe pingsan. Lebay ya? Ya, emang gitu kenyataannya. Akhirnya gue gak bercita-cita lagi jadi dokter.
2. Terlepas dari cita-cita gue yang jadi dokter. Gue masih pengen jadi tenaga kesehatan. Akhirnya gue di arahin ke Farmasi sama bokap dengan alasan untuk jadi Apoteker. Ya, untuk jadi Apoteker. Akhirnya gue masuk SMK Farmasi Swasta di kota tempat tinggal gue. Alhamdulillah, gue lulus dengan terbaik ke tiga. Seneng dong. Orangtua bangga juga. Trus lulus gue jadi Apoteker? Kaga cuy. Gue baru jadi Asisten Apoteker (sekarang tenaga teknis kefarmasian) gue punya Tante dan Oom yang juga Apoteker. Tante gue kerja di industi, Oom gue jadi PNS dan kerja di Puskesmas. Itu salah satu alasan gue mau jadi Apoteker karena ngeliat Tante dan Oom gue. Trus selesai sekolah farmasi yang jadi Asisten Apoteker, gue disuruh kerja sama nyokap. Alasannya, nyobain dulu dunia kerja tuh gimana. Di bayangan gue tuh ya kayak waktu gue PKL di RSUD. Sama sih, gue kerja di Rumah Sakit juga. Bukan Rumah Sakit pemerintah, tapi punya nya Swasta gitu. Eh..... ambruk karena kerja shiftnya yang menurut gue "GILAAAAAA BARU PULANG JAM 11 TIDUR JAM 1 TRUS HARUS BANGUN JAM 5 KARENA BESOKNYA MASUK JAM 7 PAGI?????" tepar lah gue.... gak suka dengan kerja kayak gitu akhirnya gue resign. Gue gak pernah pengen jadi Asisten Apoteker. Gue kan pengennya jadi Apoteker. Tapi jadi gak kepengen karena jadi Apoteker juga harus pinter marketing. Yoilah bro kita jualan obat! Tapi jangan di anggap remeh juga sih karena ini berhubungan sama nyawa manusia. Kalo salah dosis gimana?
3. Dulu tuh kalo ngeliat profesi guru, yang ada di pikiran gue adalah gak sejahtera. Gak sejahtera dalam hal finansial (ya gue yakin lo ngerti maksud gue) akhirnya gue coba nanya ke salah satu guru gue "Enaknya jadi guru itu apa sih? Kan salary nya kecil" and then guru gue jawab "Guru... Enaknya? Ketemu murid yang karakternya macem-macem. Trus ketika kamu udah gak jadi gurunya. Anak murid kamu pasti tetep panggil dan anggap kamu Gurunya. Juga, ketika ilmu kamu bermanfaat untuk satu murid aja. Pahala kamu inshAllah gak akan terputus dan masih banyak lagi lah pokoknya. Ketika kamu udah ngerti itu semua, salary bukan hal penting lagi."
Kenyataannya adalah.... apa yang lo impikan sesungguhnya gak selamanya jadi apa yang lo inginkan. Lo boleh sekarang mimpi 'Gue mau jadi menteri' tapi kalo kenyataannya lo di ciptakan oleh Tuhan untuk jadi seorang Presiden, lo mau bilang apa?
Btw, gue gak ngelarang lo buat bermimpi tinggi. Tapi saat mimpi-mimpi lo gak jadi kenyataan, lo jangan sampe putus asa trus bunuh diri. Itu gak keren, men. Yang keren adalah, ketika lo berani nerusin jalan yang udah di tujukan dan di tentukan oleh Tuhan. Kemanapun jalan itu akan ngebawa lo, pada akhirnya lo akan nemuin jalan hidup dan jati diri lo yang sesungguhnya. Jadi, gak usah terburu-buru untuk mutusin 'Gue sekarang kuliah keperawatan, pasti nanti gue jadi perawat' iya emang bener kok. Tapi lo cinta gak sama pekerjaan lo? Mulia emang. Tapi kalo lo nelen pil pait terus gimana? Toh, tante gue yang perawat aja mau usaha cake&bakery. Trus nyokap gue yang lulusan Adm.perkantoran dan perbankan aja sekarang buka usaha catering. Jadi, kemana pun nanti Tuhan ngebawa lo. Jangan takut dan jangan kecewa. Karena Tuhan yang duluan tau lo nantinya akan jadi apa.
Oke?
Cheers.

Takperlu Kuungkapkan (2)



                Semalaman Andini tidak bisa tidur memikirkan Randy Assegaf. Foto yang di genggampun tak terlepas dari tidurnya.
***
                “Nay! Naya! Disini!”  teriak Dini memanggil seorang wanita dengan tinggi semampai di kuncir kuda. Anak rambutnya dibiarkan menari di pelipisnya. Semakin menegaskan rahang di wajah ovalnya. Wanita itupun berjalan tergesa-gesa menuju arah suara.
                “Ada apa, Din? Se-urgent apa sih beritanya? Sampe mimpi indah gue terganggu ngedenger i-messages dari lo,” cerocos Naya sambil mecondongkan wajahnya.
                “Hehe, sorry beib.. lo mau pesen apa? Sini gue pesenin,”
                “Bayarin sekalian yaa. Gue lagi pengen gado-gado Bu Marni, nih.”
                “Sip,”
                Andini berjalan anggun menyusuri kerumunan. Padahal masih jam sembilan pagi, tapi Cafetaria FMIPA sudah mulai ramai. Mungkin banyak yang belum sarapan. Maklum, kebanyakan anak disini adalah anak kos.
                Andini pun memesan pesanan Naya. Selang beberapa lama, gado-gado pesanannya pun jadi.
                “Ah, thankyou my bestieee,” ucap Naya dengan nada bangga ketika memanggil wanita cantik didepannya dengan sebutan ‘bestie’
                “My pleasure as well, hun”
                “Oke, sambil gue makan, lo harus mulai cerita. Ada apa sebenarnya? Sampe lo susah tidur dan kemudian punya mata panda kayak begini?” ucap Naya khawatir.
                Andini mulai mengeluarkan selembar foto.
                “Jangan lihat belakang foto ini, sebelum lo kenali betul siapa orangnya! Lo kan humas di kampus kita, lo pasti kenal sedikit-banyak mahasiswa disini kan?” ucap Andini sebelum memberikan foto tersebut.
                “Bawel. Sini coba gue liat!” ucap Naya tak sabaran.
                Naya menerka-nerka foto yang sedang dipegangnya. Antara ragu, dia akhirnya menjawab.
                “Dia bukan anak sini. Anak fakultas lain. Lebih tepatnya, fakultas psikologi” ucap Naya gamblang.
                “Serius? Semester berapa?”
                “Yang jelas, dia senior kita.......... Tunggu. Masa lo gak inget sih dia siapa?” ucap Naya setengah mengunyah gado-gadonya.
                “Enggak. Emang dia siapa?” ucap Andini bingung.
                Naya geleng-geleng “Dia Kak Randy yang nolong elo waktu lo kesasar di hutan. Dia senior cowok yang paling pertama sadar pas lo ilang. Lo gak inget?”
                “Astagfirullah. Enggak, gue gak inget sama sekali. Lo kan tau gimana keadaan gue waktu itu”
                “Iya bener juga. Lo kacau banget. Tanah dimana-mana, lo pun gak bisa melek karena banyak tanah di mata lo. Lo emang abis main tanah? Haha,” ucap Naya meledek
                “Jahat lo, beib. Gue masih trauma nih sama hutan,”
                “Iya iya, sorry.” Ucap Naya sambil minum Es Teh manis milik Andini “Sekarang, gue boleh liat belakangnya?”
                “Ya, silahkan. Toh, lo udah tau siapa orangnya.”
                “Wuidih. Ada nomer ponselnya segala. Hmmm, pertanyaan gue sekarang adalah... darimana lo dapet foto ini?” tanya Naya penuh selidik.
                “Nih, dari halaman paling belakang buku ini.” Andini menyodorkan buku yang tidak terlalu tebal dengan cover bergambar sepasang kekasih yang sedang bergandengan dan dibelakangnya ada seorang pria yang memperhatikan dengan penuh kepedihan.
                “Buku ini??? Buku dari penggemar rahasia lo?! Gilaaaaaa! Beruntung banget lo di taksir sama Kak Randy!” teriak Naya sumringah.
                “Ett bocah. Pelan-pelan!”
                “Ups, sorry. Jadi, lo mau cari tau tentang dia?” tanya Naya penuh selidik.
                “Mungkin,”
                “Trus, lo sama Lana gimana?”
                “Gak gimana-mana. Gue cuma penasaran kok. Gak akan berimbas ke hubungan gue sm dia,” ‘mudah-mudahan’ lanjut Andini dalam hati.
***
                Pagi hari yang cerah ketika tiga orang gadis memperhatikan seorang pria tampan memarkirkan Kawasaki Ninja berwarna hijau miliknya.
                “Sana buruan! Ntar Kak Lana keburu pergi,” kata salah satu gadis.
                “Iya sana! Jangan kayak kemarin-kemarin ya! Bisanya cuma ‘Hai Kak Lana, apa kabar?’ setelah    dia jawab, kamu malah kabur.” Kata gadis lainnya
                “Aku takut. Duh, doain aku ya!” ucap gadis yang sedaritadi di desak oleh teman-temannya.
                Ketiga gadis ini masih lengkap dengan atribut OSPEK mereka. Politeknik Negeri Jakarta memang sedang melangsungkan OSPEK. Gadis berpipi tirus terus berjalan dengan keyakinan seperti biasa. Segenggam cokelat yang ia bawa selalu terlihat sama seperti cokelat yang ia bawa hari kemarin. Namun, siapa sangka bahwa itu adalah cokelat yang baru saja ia beli di supermarket. Dengan tambahan pita hijau di atas bungkus cokelat yang masih sangat terlihat rapi.
                Seketika gadis yang membawa cokelat itu berhenti. Ia ragu. Ia menoleh ke arah teman-temannya. Seakan bertanya, teman-temannya berkata “Ayo terus! Cepet! Ntar keburu pergi!” dengan setengah keberanian yang mulai memudar. Gadis yang membawa cokelat kemudian setengah berlari menghampiri pria tampan dengan leather jacket-nya yang sedang berbincang dengan salah satu temannya di pelataran parkiran.
                “Hai, Kak Lana. Apa kabar?” tanya sang gadis dengan meletakkan cokelatnya di belakang punggungnya.
                “Baik,” yang di sapa pun hanya menoleh sepintas kemudian melanjutkan obrolannya.
                Sang gadis hendak kabur seperti kemarin pagi di tempat yang sama. Namun teman-temannya mencegat dan meraih cokelat yang di genggamnya.
                “Hai, Kak Lana. Ini cokelat dari Amel. Dimakan ya, Kak. Semoga kakak suka,” kata salah satu temannya sambil menunjuk ke arah Amel yang tengah memerah.
                Teman Lana pun tertawa kecil mendengarnya. Kemudian berkata “Gue duluan ya, Lan. Di panggil Tony,” masih sambil tertawa. Kali ini, tawanya menjadi nyaring.
                “Kenapa gak kabur aja lagi kayak kemaren? Gue males ngadepin anak ABG kayak kalian. Lain kali kalo ada apa-apa to the point aja. Gak usah basa-basi dengan nanya kabar. Kayak kerabat lama aja! Emang lo siapanya gue?” ucap Lana pedas.
                Wajah Amel kian memerah. Bibirnya menjadi pucat. Tangannya mendingin. Matanya panas. Amel tidak menyangka akan di sembur sedemikian rupa oleh Kak Lana. Dia memang pria yang dingin dan ketus. Amel tau hal itu. Tapi Amel tak menyangka perbuatannya balakangan ini malah membuatnya jengah.
                Kak Lana pun pergi tanpa menyentuh cokelat dari Amel.
                “Kak! Gak seharusnya kakak bersikap kayak gitu! Mentang-mentang kakak seorang senior. Bisa gitu ya nyemprot kata-kata pedas ke junior?” kata teman Amel yang lainnya.
                Kak Lana pun tetap berjalan tanpa menoleh. Namun dalam hatinya berkata.
                “Tidak. Jangan lagi. Jangan terulang lagi.”

SIMILAR POSTS

Rabu, 23 September 2015

College Life Part 1



ANA POV’s

Earphone yang mengganjal di telingaku mulai memenuhi syaraf otak dikepalaku. Mungkin, di bagian otak kananku sudah dipenuhi dengan playlist favorit yang sering dikumandangkan. Dengan langkah gontai aku memasuki kelas baru yang entah siapa yang akan menjadi teman, sahabat atau bahkan –ehm, pacarku nantinya. Mungkinkah akan ada pria spesial disana?

Tanpa ragu, aku menduduki kursi paling depan yang berada di kelas ini. Bukan, bukannya aku mau ‘sok pintar tapi memang hanya tersisa kursi itu dan aku malas kalau harus berkeliling kebelakang mencari kursi yang kosong.

Saat aku duduk, ada seorang wanita berambut sebahu di samping kananku dan ada seorang wanita berambut pirang di samping kiriku. Mereka mengobrol disaat aku ada ditengah-tengah mereka. Bukankah itu menjengkelkan?

Lagi, aku hanya bisa diam mendengarkan alunan Locked Away nya Adam Levine ft. R. City. Dan aku pun hanya menunduk melihat sepatuku yang tak kusadari ternyata talinya lepas sedaritadi. Alih-alih mengaitkannya kembali, aku malah mendiamkannya dan cenderung menggoyang-goyangkannya.

Namun, ada hal aneh saat aku mulai tegak memandang di hadapanku. Ada seorang pria disana yang sepertinya baru saja memperhatikanku. Hmm gak mungkin sih ya sepertinya aku hanya berkhayal.
Dan seorang dosen pun memasuki kelasku.

REMY POV’s


Gila kali kalau setiap hari harus naik tangga sampai lantai 5! Ada lift, sih, tapi cuma untuk rektor, wadafak men! Anak tangga demi anak tangga pun harus gue tempuh dari lantai 1 dan disaat-saat seperti inilah saatnya gue berharap punya pintu kemana sajanya Doraemon.

Saat menginjak lantai 4, gue bara aja sadar ada cewek dengan muka masam berjalan mendahului gue. Rambut panjang hitam yang digerainya tetap gak bisa menutupi earphone yang ia kenakan. Entah kenapa, gue mendadak merasakan sesuatu yang menarik akan terjadi dan tanpa sadar, gue menyunggingkan senyum termanis yang pernah gue miliki.

Gue pun melanjutkan perjalanan, lalu tiba lah gue dilantai 5, saat memasuki kelas, di bangku paling depan –gue antara terkejut dan enggak terkejut, sih, lantaran entah kenapa gue udah yakin aja cewek yang tadi gue temuin di lantai 4 bakal menjadi teman sekelas gue. Ya jelas aja sih, di topi OSPEK nya ada angka 5! Hahahaha.

Untung aja saat gue perhatiin, dia sedang sibuk ngedumel (maksud gue nyanyi-nyanyi gak jelas lantaran earphone ditelinganya terlihat masih mengeluarkan suara) sambil meratapi tali sepatunya yang lepas. Dan tiba-tiba, dia sadar kalau gue sedang memperhatikan dia.
Dan dosen berambut hitam legam pun memasuki kelas.

To be continue…

Selasa, 22 September 2015

Love or Lust


My lecturer said that love can be a noun. Even tho that words can change into progressive, past and the perfect tenses, but we can feel love, can’t we? Even tho’ we can’t see it, of course. But honestly, it pretty hard for me to know am I falling in love or just I like someone.

And I think Like is the same with Lust. Do you know Lust? Yes, it’s temporarily and if we got the climax, it can go easily. Got it?

Don’t think the porn thing ok. Because I didn’t mean it.

You know, there’s so much love song. And I’ll take the examples with Pia Mia’s song with Chris Brown and Tyga –Do it Again (because this song is so easy-listened and I like it)

Hey boy, when I first met you, thought it was special

I told myself that

Okay not told myself but told you that
And I get really confuse with this part

…I bet true love was pouring

Did you know that love can come if you like someone more than 4 months? And yes, my teacher –when I was in JHS told that. And dunno why I believed it. And on that part it means Pia Mias just met and did one night stand with a man she never met before but she felt click on the first night.

Btw, I have a story to share you all. On January or February 2015 (I’m a bit forget), I got a new friends, he’s a modus man maybe and woman will fly with those words. And I am a woman, is it normal for me if I feel ‘fly’? Yes, for me it’s normal but even tho I already had a boyfriend but I can controlled it so don't worry.
On the first trimester –no, I’m not pregnant. I mean on that time I’m still waiting for him, if he didn’t chat me but then slow but sure I’m totally forget about him until on the 4th month, he chat me and I didn’t feel anything.

Does it mean I just like him, right? Okay, I am a baper woman, sometimes.

And now, I feel the same way. It feels awkward and I hate it if I know it’ll be a long day I didn’t meet him. I hope this is just a lust and I can forget him ASAP.

Even tho on Pia Mia’s song I feel the same way,
It’s nice to know you let’s do it again
*sensor*
Boy, I wanna be more than a friend to ya

Ahahaha forget it.

Btw, if you wanna know that song, let’s open this video. Pia is so beautiful!

Jumat, 18 September 2015

Menjadi Dewasa



When I was a kid, I used to think what will I be when I grow up. Now, just a middle-little-step to be an adult but I’m beginning to endure it.
Guys, jadi orang dewasa itu gak enak. Banyak pengeluaran, banyak tanggungan, banyak hal yang dulunya ditanggung orang tua jadi lo tanggung sendiri.

My dad stops giving me money routine a year ago since I already have a job.


Tapi semua gak seenak yang lo pikirin, maybe you’ll think ‘Gaji lo gede, men. Wajar lah kalau bokap lo udah gak ngasih lagi.’

Eits, hal ‘enak’ yang lo pikirin gak semudah itu gue dapetin.

Okay, I admit it I got one of my dream job. When I was in Junior High School, I wanna be a writer. And here I am being an article re-writer at one of viral website. But it’s not as easy as you think. Maybe I’m a lucky –some people will think like that, but actually I know this is the answer with all of the things I want when I tell Allah.

Kalau lo kira hidup gue baik-baik aja. Lo salah.

Life is an adventure.

Slogan iklan rokok itu bener loh. Hampir setahun gue ngerasain titik terendah dan titik pembelajaran serta pendewasaan di hidup gue. Mulai dari lulus sekolah farmasi tahun 2014 kemarin, gue pikir kehidupan gue akan semakin baik tapi ternyata banyak banget kerikil hidup yang gue alamin.
Mulai dari pendewasaan diri gue bahkan sampai permasalahan keluarga.

Nobody knows about this except Gusti *cieee( ・´Ð·・`)


Tempat nangis, tempat ketawa, tempat gue cerita segala hal mulai dari kepengen kentut –anjir jorok, sampe hal-hal berat kayak kangen masa lalu –serius loh segini terbukanya gue dengan Gusti- dan Gusti tau semuanya tapi tetep sabar ngadepin tingkah gue.

Okay kembali ke proses pendewasaan.

Semenjak memutuskan gakmau balik menjadi asisten apoteker alias banting stir, nyokap sempet gak sejutu karena ngerasa sayang ilmunya tapi toh segala keilmuan pasti kepake kan? Sampe sekarang juga kalau saudara atau tetangga-tetangga nanya obat masih sama gue dan Alhamdulillah gue masih inget dan bisa kejawab. Sempet cekcok, berantem adu mulut karena gue mau nunjukin ini loh jalan yang gue ambil dan plis beri keridhoan.

Ditambah dulu setelah resign dari rumah sakit gue gak langsung dapet pekerjaan enak. Harus ngerasain yang namanya gaji bulanan gak tetap. Mulai dari 100-300rb pun pernah gue rasain. Jadi, segala sesuatunya harus dari nol kayak pom bensin.
Gak deng. Quote favorite gue dari Apoteker tempat gue kerja dulu kayak gini,

“Kalau mau nyampe 100 harus mulai dari 0”


Got it? Ngerti lah ya soalnya gue males jelasin hahahampun.

And yep, sekarang, di usia 18 tahun meski baru setengah tahun ngerasain enaknya kerja, gue udah harus mulai menata hidup. Mulai dari nabung bulanan, bayar asuransi kesehatan bulanan dari pemerintah –yang ituloh inisialnya B belakangnya S tengahnya PJ- iya, gue bayar bulanannya sendiri. Ditambah bokap udah gak ngasih uang jajan rutin kan –ya, sebulan sekali minta 10rb mah dikasih- jadi gue harus pinter-pinter manage keuangan karena emang pada dasarnya wanita harus pinter ngatur keuangan. Soalnya nanti kalau nikah sama cowok yang rata-rata boros itu bisa susah deh. Trus pengeluaran pulsa internet, daily skincare, baju-baju baru, jalan sama temen, ke salon dan macam-macam yang masih pengen dirasain anak-anak muda kayak gue. Dan itu semua harus pinter-pinter gue atur kalo enggah, matilah gak ada sisa.

Untungnya sih keperluan kuliah masih dibantu bokap sampai detik ini tapi gatau deh semester depan (hah doakan yah biar dibiayai sampai lulus bahkan sampai S2)

Jadi intinya, jadi orang dewasa itu sulit makanya hidup jangan dipersulit karena emang udah sulit nanti makin sulit jadi tambah sulit.

But life’s must go on, perlahan tapi pasti nanti juga lama-lama terbiasa sama 'keras’nya dunia.
Yok se-ma-ngat!

Rabu, 29 Oktober 2014

Mimpi VS. Kenyataan

All the things on your dreams is not only a dream. It's a must for you to pursue any dream what you've dream.
Kedengerannya gampang ya? Toh, tinggal mimpi trus dapetin. Tapi nyatanya? Gak semua hal yang emang lo pengen tuh bakal kesampean.
Contoh:
1. Waktu kecil gue mau jadi dokter. Alesannya? Simpel. Tiap anak  kecil dulu kalo di tanya cita-cita pasti jawabnya mau jadi dokter lah, pilot, arsitek, guru, profesi-profesi terkenal deh. Trus nyatanya? Gue takut darah. Pernah kena pisau lagi masak. Enggak, gak trauma sama pisau. Tapi darahnya itu. Ngucur deres di bak cucian piring bikin gue nangis histeris sampe pingsan. Lebay ya? Ya, emang gitu kenyataannya. Akhirnya gue gak bercita-cita lagi jadi dokter.
2. Terlepas dari cita-cita gue yang jadi dokter. Gue masih pengen jadi tenaga kesehatan. Akhirnya gue di arahin ke Farmasi sama bokap dengan alasan untuk jadi Apoteker. Ya, untuk jadi Apoteker. Akhirnya gue masuk SMK Farmasi Swasta di kota tempat tinggal gue. Alhamdulillah, gue lulus dengan terbaik ke tiga. Seneng dong. Orangtua bangga juga. Trus lulus gue jadi Apoteker? Kaga cuy. Gue baru jadi Asisten Apoteker (sekarang tenaga teknis kefarmasian) gue punya Tante dan Oom yang juga Apoteker. Tante gue kerja di industi, Oom gue jadi PNS dan kerja di Puskesmas. Itu salah satu alasan gue mau jadi Apoteker karena ngeliat Tante dan Oom gue. Trus selesai sekolah farmasi yang jadi Asisten Apoteker, gue disuruh kerja sama nyokap. Alasannya, nyobain dulu dunia kerja tuh gimana. Di bayangan gue tuh ya kayak waktu gue PKL di RSUD. Sama sih, gue kerja di Rumah Sakit juga. Bukan Rumah Sakit pemerintah, tapi punya nya Swasta gitu. Eh..... ambruk karena kerja shiftnya yang menurut gue "GILAAAAAA BARU PULANG JAM 11 TIDUR JAM 1 TRUS HARUS BANGUN JAM 5 KARENA BESOKNYA MASUK JAM 7 PAGI?????" tepar lah gue.... gak suka dengan kerja kayak gitu akhirnya gue resign. Gue gak pernah pengen jadi Asisten Apoteker. Gue kan pengennya jadi Apoteker. Tapi jadi gak kepengen karena jadi Apoteker juga harus pinter marketing. Yoilah bro kita jualan obat! Tapi jangan di anggap remeh juga sih karena ini berhubungan sama nyawa manusia. Kalo salah dosis gimana?
3. Dulu tuh kalo ngeliat profesi guru, yang ada di pikiran gue adalah gak sejahtera. Gak sejahtera dalam hal finansial (ya gue yakin lo ngerti maksud gue) akhirnya gue coba nanya ke salah satu guru gue "Enaknya jadi guru itu apa sih? Kan salary nya kecil" and then guru gue jawab "Guru... Enaknya? Ketemu murid yang karakternya macem-macem. Trus ketika kamu udah gak jadi gurunya. Anak murid kamu pasti tetep panggil dan anggap kamu Gurunya. Juga, ketika ilmu kamu bermanfaat untuk satu murid aja. Pahala kamu inshAllah gak akan terputus dan masih banyak lagi lah pokoknya. Ketika kamu udah ngerti itu semua, salary bukan hal penting lagi."
Kenyataannya adalah.... apa yang lo impikan sesungguhnya gak selamanya jadi apa yang lo inginkan. Lo boleh sekarang mimpi 'Gue mau jadi menteri' tapi kalo kenyataannya lo di ciptakan oleh Tuhan untuk jadi seorang Presiden, lo mau bilang apa?
Btw, gue gak ngelarang lo buat bermimpi tinggi. Tapi saat mimpi-mimpi lo gak jadi kenyataan, lo jangan sampe putus asa trus bunuh diri. Itu gak keren, men. Yang keren adalah, ketika lo berani nerusin jalan yang udah di tujukan dan di tentukan oleh Tuhan. Kemanapun jalan itu akan ngebawa lo, pada akhirnya lo akan nemuin jalan hidup dan jati diri lo yang sesungguhnya. Jadi, gak usah terburu-buru untuk mutusin 'Gue sekarang kuliah keperawatan, pasti nanti gue jadi perawat' iya emang bener kok. Tapi lo cinta gak sama pekerjaan lo? Mulia emang. Tapi kalo lo nelen pil pait terus gimana? Toh, tante gue yang perawat aja mau usaha cake&bakery. Trus nyokap gue yang lulusan Adm.perkantoran dan perbankan aja sekarang buka usaha catering. Jadi, kemana pun nanti Tuhan ngebawa lo. Jangan takut dan jangan kecewa. Karena Tuhan yang duluan tau lo nantinya akan jadi apa.
Oke?
Cheers.

Jumat, 27 Desember 2013

Takperlu Kuungkapkan (2)



                Semalaman Andini tidak bisa tidur memikirkan Randy Assegaf. Foto yang di genggampun tak terlepas dari tidurnya.
***
                “Nay! Naya! Disini!”  teriak Dini memanggil seorang wanita dengan tinggi semampai di kuncir kuda. Anak rambutnya dibiarkan menari di pelipisnya. Semakin menegaskan rahang di wajah ovalnya. Wanita itupun berjalan tergesa-gesa menuju arah suara.
                “Ada apa, Din? Se-urgent apa sih beritanya? Sampe mimpi indah gue terganggu ngedenger i-messages dari lo,” cerocos Naya sambil mecondongkan wajahnya.
                “Hehe, sorry beib.. lo mau pesen apa? Sini gue pesenin,”
                “Bayarin sekalian yaa. Gue lagi pengen gado-gado Bu Marni, nih.”
                “Sip,”
                Andini berjalan anggun menyusuri kerumunan. Padahal masih jam sembilan pagi, tapi Cafetaria FMIPA sudah mulai ramai. Mungkin banyak yang belum sarapan. Maklum, kebanyakan anak disini adalah anak kos.
                Andini pun memesan pesanan Naya. Selang beberapa lama, gado-gado pesanannya pun jadi.
                “Ah, thankyou my bestieee,” ucap Naya dengan nada bangga ketika memanggil wanita cantik didepannya dengan sebutan ‘bestie’
                “My pleasure as well, hun”
                “Oke, sambil gue makan, lo harus mulai cerita. Ada apa sebenarnya? Sampe lo susah tidur dan kemudian punya mata panda kayak begini?” ucap Naya khawatir.
                Andini mulai mengeluarkan selembar foto.
                “Jangan lihat belakang foto ini, sebelum lo kenali betul siapa orangnya! Lo kan humas di kampus kita, lo pasti kenal sedikit-banyak mahasiswa disini kan?” ucap Andini sebelum memberikan foto tersebut.
                “Bawel. Sini coba gue liat!” ucap Naya tak sabaran.
                Naya menerka-nerka foto yang sedang dipegangnya. Antara ragu, dia akhirnya menjawab.
                “Dia bukan anak sini. Anak fakultas lain. Lebih tepatnya, fakultas psikologi” ucap Naya gamblang.
                “Serius? Semester berapa?”
                “Yang jelas, dia senior kita.......... Tunggu. Masa lo gak inget sih dia siapa?” ucap Naya setengah mengunyah gado-gadonya.
                “Enggak. Emang dia siapa?” ucap Andini bingung.
                Naya geleng-geleng “Dia Kak Randy yang nolong elo waktu lo kesasar di hutan. Dia senior cowok yang paling pertama sadar pas lo ilang. Lo gak inget?”
                “Astagfirullah. Enggak, gue gak inget sama sekali. Lo kan tau gimana keadaan gue waktu itu”
                “Iya bener juga. Lo kacau banget. Tanah dimana-mana, lo pun gak bisa melek karena banyak tanah di mata lo. Lo emang abis main tanah? Haha,” ucap Naya meledek
                “Jahat lo, beib. Gue masih trauma nih sama hutan,”
                “Iya iya, sorry.” Ucap Naya sambil minum Es Teh manis milik Andini “Sekarang, gue boleh liat belakangnya?”
                “Ya, silahkan. Toh, lo udah tau siapa orangnya.”
                “Wuidih. Ada nomer ponselnya segala. Hmmm, pertanyaan gue sekarang adalah... darimana lo dapet foto ini?” tanya Naya penuh selidik.
                “Nih, dari halaman paling belakang buku ini.” Andini menyodorkan buku yang tidak terlalu tebal dengan cover bergambar sepasang kekasih yang sedang bergandengan dan dibelakangnya ada seorang pria yang memperhatikan dengan penuh kepedihan.
                “Buku ini??? Buku dari penggemar rahasia lo?! Gilaaaaaa! Beruntung banget lo di taksir sama Kak Randy!” teriak Naya sumringah.
                “Ett bocah. Pelan-pelan!”
                “Ups, sorry. Jadi, lo mau cari tau tentang dia?” tanya Naya penuh selidik.
                “Mungkin,”
                “Trus, lo sama Lana gimana?”
                “Gak gimana-mana. Gue cuma penasaran kok. Gak akan berimbas ke hubungan gue sm dia,” ‘mudah-mudahan’ lanjut Andini dalam hati.
***
                Pagi hari yang cerah ketika tiga orang gadis memperhatikan seorang pria tampan memarkirkan Kawasaki Ninja berwarna hijau miliknya.
                “Sana buruan! Ntar Kak Lana keburu pergi,” kata salah satu gadis.
                “Iya sana! Jangan kayak kemarin-kemarin ya! Bisanya cuma ‘Hai Kak Lana, apa kabar?’ setelah    dia jawab, kamu malah kabur.” Kata gadis lainnya
                “Aku takut. Duh, doain aku ya!” ucap gadis yang sedaritadi di desak oleh teman-temannya.
                Ketiga gadis ini masih lengkap dengan atribut OSPEK mereka. Politeknik Negeri Jakarta memang sedang melangsungkan OSPEK. Gadis berpipi tirus terus berjalan dengan keyakinan seperti biasa. Segenggam cokelat yang ia bawa selalu terlihat sama seperti cokelat yang ia bawa hari kemarin. Namun, siapa sangka bahwa itu adalah cokelat yang baru saja ia beli di supermarket. Dengan tambahan pita hijau di atas bungkus cokelat yang masih sangat terlihat rapi.
                Seketika gadis yang membawa cokelat itu berhenti. Ia ragu. Ia menoleh ke arah teman-temannya. Seakan bertanya, teman-temannya berkata “Ayo terus! Cepet! Ntar keburu pergi!” dengan setengah keberanian yang mulai memudar. Gadis yang membawa cokelat kemudian setengah berlari menghampiri pria tampan dengan leather jacket-nya yang sedang berbincang dengan salah satu temannya di pelataran parkiran.
                “Hai, Kak Lana. Apa kabar?” tanya sang gadis dengan meletakkan cokelatnya di belakang punggungnya.
                “Baik,” yang di sapa pun hanya menoleh sepintas kemudian melanjutkan obrolannya.
                Sang gadis hendak kabur seperti kemarin pagi di tempat yang sama. Namun teman-temannya mencegat dan meraih cokelat yang di genggamnya.
                “Hai, Kak Lana. Ini cokelat dari Amel. Dimakan ya, Kak. Semoga kakak suka,” kata salah satu temannya sambil menunjuk ke arah Amel yang tengah memerah.
                Teman Lana pun tertawa kecil mendengarnya. Kemudian berkata “Gue duluan ya, Lan. Di panggil Tony,” masih sambil tertawa. Kali ini, tawanya menjadi nyaring.
                “Kenapa gak kabur aja lagi kayak kemaren? Gue males ngadepin anak ABG kayak kalian. Lain kali kalo ada apa-apa to the point aja. Gak usah basa-basi dengan nanya kabar. Kayak kerabat lama aja! Emang lo siapanya gue?” ucap Lana pedas.
                Wajah Amel kian memerah. Bibirnya menjadi pucat. Tangannya mendingin. Matanya panas. Amel tidak menyangka akan di sembur sedemikian rupa oleh Kak Lana. Dia memang pria yang dingin dan ketus. Amel tau hal itu. Tapi Amel tak menyangka perbuatannya balakangan ini malah membuatnya jengah.
                Kak Lana pun pergi tanpa menyentuh cokelat dari Amel.
                “Kak! Gak seharusnya kakak bersikap kayak gitu! Mentang-mentang kakak seorang senior. Bisa gitu ya nyemprot kata-kata pedas ke junior?” kata teman Amel yang lainnya.
                Kak Lana pun tetap berjalan tanpa menoleh. Namun dalam hatinya berkata.
                “Tidak. Jangan lagi. Jangan terulang lagi.”