Ano Hana - The Flower We Saw That Day (Live Action)



Ano Hana sebenarnya film yang diadopsi dari anime yang berjudul sama. Sesungguhnya, anime ini lebih tentang persahabatan sih daripada tentang percintaan meski ada tentang percintaannya. Kalau dari animenya, awal-awal anime nya lucu karena tokoh utamanya, Menma, sosok hantu yang ceria. Iya, Menma itu kembali ke bumi untuk mengabulkan permintaan ibunya Jintan. Dengan tingkah Menma yang menggemaskan ngebuat gue suka banget sama karakternya haha.
Tapi, begitu mulai episode-episode akhir sekitar episode 6 keatas, kesedihan pun dimulai dan gue nangis sejadi-jadinya! Kalau butuh film/anime yang sedih-sedih, ini recommended banget!

Kurang lebih Sinopsisnya seperti ini:

“Kisah yang menceritakan kehidupan dari sebuah kelompok yang beranggotakan 6 teman masa kecil yang mulai terpecah setelah salah satu dari mereka, Meiko “Menma” Honma, meninggal dalam sebuah kecelakaan. Selama sepuluh tahun setelah kecelakaan tersebut, ketua dari kelompok anak-anak tersebut, Jinta Yadomi, memilih menjauh dari masyarakat dan mengurung dirinya di rumah. Suatu hari di musim panas, munculah hantu seorang gadis yang mirip dengan Menma di hadapannya dan memintanya untuk mengkabulkan permohonannya, sehingga ia bisa dengan tenang pergi ke surga. Awalnya, Jinta hanya mencoba menolong hantu gadis tersebut sebisa yang ia bisa. Tetapi semenjak Menma tidak ingat permohonan apa yang ia inginkan, Jinta pun memutuskan untuk mengumpulkan para teman lamanya di dalam kelompok tersebut bersama-sama, dan meminta bantuan mereka memecahkan keinginan “misterius” milik Menma tersebut. Perjuangan untuk mengkumpulkan ke 4 teman lainnya dan penampakan hantu Menma yang hanya dapat dilihat oleh Jinta saja, sangatlah membuat hal ini tidak mudah, ditambah lagi munculnya berbagai konfik yang berhubungan dengan insiden kematian Menma, perasaan dari masing-masing mereka yang tersembunyi selama sepuluh tahun, serta perasaan yang saling menyalahkan antara satu dengan yang lain pun mewarnai kisah hidup dari kelima teman masa kecil ini. Seiring waktu mereka bersama kembali, sedikit demi sedikit kelima teman masa kecil ini pun mulai bertambah dewasa dan menerima satu sama lainnya dan bersama-sama mereka pun berusaha mengkabulkan permohonan dari teman lama mereka Menma.”

Ini penampakkan mereka di anime


Ini penampakkan mereka di Live Action (filmnya)


Ini trailer nyaaa semoga suka yah! *siapin tissue*

  Dan ini soundtracknya yang sukses bikin gue baper

SIMILAR POSTS

College Life Part 3


Fahri POV’s


Entah kenapa sejak awal pendaftaran, gue udah liat cewek itu. Sempat intip-intip namanya, dan namanya Ana, ya. Dan gue gak nyangka, akan sekelas dengannya. Jodoh kah?

Ana Wafirna, anak pertama dari dua bersaudara. Saat pertama kali lihat dia, dia seperti tidak suka dengan perkuliahan disini, namun lama-lama sifat aslinya mulai muncul dan ternyata dirinya sangat ceria, ya, gak se-kaku yang gue bayangin.

Gue Fahri, seharusnya gue udah kuliah semester 3 sekarang. Namun karena gue gak suka sama jurusan  yang dulu gue ambil, gue memilih untuk mengulang di jurusan yang baru dan begitu mengetahui ada cewek sesempurna Ana, gue sadar seharusnya gue bisa sama cerdasnya dengan dirinya biar dia tau dan notice gue kalau gue ‘tuh sebanding dengan dirinya.
Gue mungkin gak se-keren Remy dan gak bisa se-agresif dia, tapi faktanya, gue mau bisa deket dengan Ana. Tapi, gimana caranya? Jujur aja, sih, gue cemburu abis kalau liat Remy dekat dengan Ana. Apa yang harus gue lakuin agar mereka tidak dekat lagi, ya?
“Hoy, ngelamun aja lo!”
Gue yang sedang memainkan pulpen tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran Remy yang sedang menggenggam ponselnya. Saat melihat ponsel Remy, tiba-tiba gue kepikiran sesuatu.
“Eh, men, hp gue gak pulsa nih, boleh pinjem SMS gak?”
Ana POV’s

Remy jalan bersandingan denganku, entah mengapa, ada aroma manis nan menenangkan ditubuhnya yang membuatku ingin terus bersamanya. Dengan balutan celana jeans, kemeja berwarna hitam dan jaket berwarna abu-abu yang ia kenakan, membuat Remy sangat enak dipandang. Apalagi mata bulatnya sangat indah –tunggu, apa yang aku bilang? Indah? Enak dipandang? Ingin bersamanya? Duh, ngawur!

Tanpa terasa aku pun memperlambat langkahku. Aku ingin lebih lama berjalan bersandingan dengannya meski tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir kami berdua. Seketika, aku ingin melihat penampilanku hari ini. Tanpa berkata padanya, aku langsung berbelok kearah toilet.
Toilet di siang hari rupanya tak seramai yang aku pikirkan. Dengan percaya diri aku melihat diriku di cermin besar yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhku. Cukup dengan kemerja berwarna putih, jeans hitam dan balutan kalung aku merasa cukup percaya diri. Lalu, aku menambah polesan lipstick dibibirku.

Hey wait, kenapa aku segenit ini??

Remy POV’s


Tadinya gue jalan bareng Ana menuju kelas. Aroma tubuhnya semerbak banget, coy. Bikin gue betah nempel sama dia. Gaya simpelnya juga minta banget digandeng tapi gue harus tahan diri nanti dia malah ilfeel sama gue. Duh, jangan sampe deh!

Saat gue memasuki kelas, gue ngeliat sohib baru gue si Fahri ngelamun mainin pulpen kayak orang naber, tapi sayangnya saat gue kagetin dia, dia gak naber sih.
“Eh, men, hp gue gak pulsa nih, boleh pinjem SMS gak?”
Tentu saja sebagai sohib yang baik dan tidak sombong serta rajin menabung pulsa –gue jomlo men gak ada yang SMS gue, gue pinjemin deh.
“Okay, nih pake aja sesuka hati lo,”
Tiba-tiba gue inget belum pinjem buku ke perpus padahal kelas 15 menit lagi mulai, gue harus buru-buru nih.
“Btw, Ri, gue tinggal bentar ya belom pinjem buku ke perpus nih mati lah gue gak boleh masuk kelas entar!”
“Oh, iya iya Rem! Cepet ye!” kata Fahri mengingatkan.
“Sip! Nanti kalo udah kelar balikin aja ke tas gue!”
Fahri pun mengangguk patuh layaknya hewan peliharaan gue.

Normal POV’s


Ana pun keluar dari toilet dan mendapati Remy tengah berlari melewati dirinya. Aroma tubuh Remy pun tercium nan menenangkan untuknya.
Kenapa cowok bisa se-wangi itu sih? Bikin melting! Ucap Ana dalam hati.
Ana pun melihat jam yang menggantung indah ditangan kecilnya, ia melihat kalau kelas akan mulai 15 menit lagi, ia langsung bergegas menuju kelas. Ana pun duduk di row ke 3 lantaran di tempat itu masih ada satu kursi kosong yang tersisa. Sejujurnya ia ingin merasakan duduk di row ke 4 namun ia menghindari tempat paling belakang di kelas karena disanalah Remy duduk. Ana takut tidak fokus nantinya.

Fahri pun celingukan melihat sekeliling ketika ia menghirup aroma tubuh Ana yang semerbak wanginya dan ia pun mendapati Ana sudah duduk manis di serong sebelah kanannya. Wajah putihnya memerah lantaran sengatan matahari siang. Fahri pun mengecek aplikasi BBM yang ada di ponsel Remy.

Sejujurnya, dirinya meminjam ponsel Remy bukan untuk mengirim SMS tapi ia penasaran sedekat apa Remy dengan Ana. Saat di cek, ternyata begitu panjang dan banyak isi chatting mereka yang dilakukan rutin setiap hari.

Dengan suasana kelas yang panas dan hatinya yang mendadak panas, tanpa pikir panjang Fahri pun mengakhiri obrolan yang dilakukan Remy dan Ana di BBM. Ia pun langsung membuka kontak Ana disana, dan mengklik tulisan delete contact.

To be continue….

SIMILAR POSTS

Makhluk Bernama Pria



Biasanya sih kalau ngebahas cowok, yang pertama ada di otak gue adalah cowok impian gue. Kayak apa tuh cowok impian gue? Gue gak muluk-muluk sih yang penting se-iman, sholat 5 waktu, bisa baca Al-Qur’an, baik, gak perhitungan, good looking, has a good style, has a good smells, SMART (it’s a must), sabar (karena gue kadang bisa menjelma jadi wanita posesif dan wanita tidak peduli secara bersamaan), dan yang terpenting adalah setia.

Tapi sejujurnya gue gak akan ngebahas tentang tipe cowok impian gue sih melainkan gue bakal ngebahas seperti apa sih para cowok di mata gue. Soalnya, temen gue Ivan, dia selalu aja memandang cewek sesuai sudut pandangnya tanpa melihat dari sisi lainnya.
Sebelumnya gue cuma mau bilang kalau tipe-tipe cowok kayak yang akan gue sebutin berdasarkan pengalaman gue.

Oke pertama, cowok itu egois.

Mungkin Ivan bilang kalau yang egois itu cewek, tapi sesungguhnya cowok itu egois. Karena emang setiap orang punya sisi egois. Contoh:

  • Mereka bisa sesuka hati ngomong kasar tanpa mikirin hati orang lain
Tbh, gue gak suka di kasarin. Baik secara verbal maupun perlakuan tapi cowok-cowok sekarang keseringan asal jeplak anggota keluarganya dibawa-bawa tanpa pandang bulu karena katanya mereka menganggap cewek udah emansipasi. Tapi men, lo harus tau kalau cewek itu lebih mengedepankan perasaan daripada otak
  • Selanjutnya mereka bisa pipis berdiri dimanapun, sementara cewek enggak.

  • Cowok cenderung diberi kebebasan lebih sementara cewek enggak dan kami mencoba memahami itu. Masih bilang kami egois?

Kedua, cowok itu tukang PHP, modus dan pintar merayu.

Based on my experience, gue pernah ditembak sama cowok tapi kita sepakat untuk gak pacaran tapi satu bulan kemudian dia menghilang tanpa jejak setelah bikin gue ke angkasa. Sakit woy!! Udah gitu, orang itu minta gue gak bilang siapa-siapa while all the people knows that I’m the first one who loves him, dan dia mau membiarkan seperti itu dan menginjak-injak harga diri serta martabat gue. Cowok macam apa itu hah?

Selanjutnya gue pernah deket sama orang yang tukang modus dan pintar merayu. Menurut dia, dia udah biasa manggil semua cewek ‘Bep’ ‘Say’ dan panggilan khusus lainnya tapi kan gue jadi nge-fly.. oke kalau yang ini gue baper.

Trus, cowok itu suka nyentuh cewek. Asal kaum cowok tau aja sih, cewek kalau dipegang bahu nya aja tuh udah langsung deg-degan sekalipun kalian bukan cowok yang ditaksir karena ada getaran tersendiri gitu. Jadi, kalau emang kalian para cowok gak tertarik sama cewek itu, don’t make a touching contact ok.

Cowok PHP selanjutnya adalah saat tiba-tiba hari ini ngedeketin trus besoknya gak ngedeketin lagi. Hah! Kalau gak niat mah gak usah.

Ketiga, cowok suka kabur.

Gue sampe sekarang gak ngerti sama kebiasaan cowok-cowok yang suka ngabur gak jelas kayak gini. Mendadak menghilang tanpa jejak, sok dicari lu. Kayak misalnya lagi asyk-asyik chat tau-tau offline atau gak bales-bales atau tau-tau ganti nomer. Kenapa sih begitu?

Terakhir, kode.

Cowok itu katanya gak mau kalau cuma sekedar diberi kode-kode gajelas, katanya ‘Mulut ada kenapa gak di pake?’ tapi, giliran kami mengungkapkan keinginan kami, kami bisa aja dibilang murahan. Makanya peka aja kek! Gak ada istilahnya cewek ngelamar cowok, adanya cowok yang ngelamar cewek, jadi mulai sekarang jangan pernah komplen kalau kami hanya memberikan kode. Karena kami melatih seberapa intensnya kalian mengerti kami. Kami para wanita bukan hanya butuh perhatian tapi juga butuh kepastian masa depan. Mohon mengertilah.

ASEK

SIMILAR POSTS

Locked Away - R. City Ft. Adam Levine

 Ada satu lagu yang lagi gue suka, bercerita tentang keraguan kesetiaan. Istilahnya kayak kalau gue nunjukin hal buruk yang ada di diri gue, lo bakal tetap sama gue gak? Kurang lebih, lagu ini cocok kalau lo ragu sama pasangan lo. Suruh aja dia dengerin dan semoga dia ngerti sih. Kalau dia gak ngerti, suruh cari liriknya dan translate.




[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Right about now...
If a judge for life me...
Would you stay by my side?
Or is ya gonna say good-bye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty would it be alright
Come and show me that you are down

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A gal I know that I can trust...
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love...
Would that even be enough?
Gal meh need fi know

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a gal who's always by my side...
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yea?
Or is ya just tryna play me?
Cause I need a gal to hold me down for life...

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly...
Would you still love me the same?

Would you still love me the same?

Source: http://www.azlyrics.com/lyrics/rcity/lockedaway.html

SIMILAR POSTS

College Life Part 2



REMY POV’s

Punya dosen yang suka ngebanyol seru juga ya ternyata. Tanpa sadar pun syaraf ketawa gue terus-terusan terangsang. Tapi ngomong-ngomong, gue udah dua jam di kelas ini tapi masih belum tau nama cewek masam yang sedaritadi gue liat dia udah mulai ikutan ketawa.
Oke, gue gak begitu peduli sih sama dia.
Dan tanpa terasa kelaspun berakhir dan gue harus kembali ke habitat gue.
“Wes, Remy! Si maba baru pulang ngampus nih?” suara ngebass itu? Itu temen gue namanya Riqi. Dia dua tahun diatas gue.
Tiba-tiba kepala gue diteplak seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Adi. Dia memang punya hobi teplak pala orang.
“Iya, baru balik gue. Asem nih, bagi dong!”
Temen-temen gue yang udah biasa dikodein cewek pun langsung peka sama kode yang gue berikan. Namun, tiba-tiba, dalam dua kali isapan, gue mendadak kepikiran dan penasaran, apakah si cewek masam yang masih belum gue ketahui namanya itu suka cowok perokok? Karena sepertinya, dia cewek alim nan baik-baik yang peduli dengan kesehatan.
Dan bodohnya, buat apa gue mikirin hal itu?

ANA POV’s

Aku benar-benar benci dengan orang yang merokok di kendaraan umum! Dalam perjalanan pulang dari kampus, aku pasti akan terus menaiki angkutan umum lantaran orang tuaku tidak mengizinkanku mengendarai kendaraan pribadi. Karena aku cewek, katanya, dan mereka takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau aku mengendarai kendaraan pribadi.
Berhubung orang itu lebih tua dariku, aku jadi tidak bisa menegurnya lantaran ‘ngeri’ dianggap tidak sopan. Jadilah aku hanya berpura-pura batuk didekatnya.
Tanpa terasa, akhirnya aku sampai di rumah. Aku berjalan sedikit dan memasuki pelataran rumahku. Tampak depan rumahku sih seperti rumah normal kebanyakan, namun terkadang aku takut kalau harus memasuki rumah bercat orange itu.
Oke, ini masih siang dan bokap pasti belum pulang.
Aku mengucapkan salam lalu memasuki kamarku. Aku merasa, kehidupan perkuliahan yang akan kujalani masih belum terlihat titik terang keseruannya. Tapi gak masalah sih karena tujuanku kuliah untuk menuntut ilmu bukan untuk menuntut keseruan.
Semakin larut aku berpikir, semakin aku terasa mengantuk…

Normal POV’s

Remy memarkirkan motronya di pelataran parkiran kampus yang akan menjadi saksi bisu kisah mereka berdua dan Ana pun baru saja turun dari angkutan umum yang ia naiki. Meski berada di jarak dan tempat berbeda, mereka berada di tujuan yang sama yaitu kelas.

Berhubung absen sudah dimulai, nama-nama pun sudah tercantum dan kini Remy mengetahui nama cewek yang ia anggap berwajah masam yaitu Ana.

Meski pendiam, sesungguhnya Ana adalah pengamat dan peneliti yang jeli. Meski sedikit berbicara, ia mengetahui banyak hal yang pastinya akan membuat teman-teman sekelasnya terkagum-kagum olehnya.

Dan semua terjawab saat satu minggu pertama mulai aktif perkuliahan. Remy pun menyadari bagaimana cerdasnya Ana berbicara, mengemukakan pendapatnya dan dari setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir kecilnya terkadang sulit di cerna oleh teman-temannya.

Hingga akhirnya Remy memberanikan diri untuk menyapa Ana,


“Eh, nama lo siapa sih?” Tanya Remy spontan.
“Ana, kenapa?”
“Oh, gak apa-apa, takut salah aja,”


Dan kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua. Ana yang sudah mengetahui nama Remy pun hanya melihatnya sekilas dan kembali berpaling. Sempat ada perasaan aneh di dada Ana, namun ia tak memperdulikannya.

Hari-hari pun berlalu dan mereka hanya bisa saling menatap dalam diam. Ana yang sadar akan kecanggungan ini pun semakin penasaran ada apa dengan Remy. Sampai akhirnya ia tertarik dan ingin mengetahui Remy lebih dalam.

Dan Ana pun memutuskan untuk memberanikan diri menyapa Remy saat mereka tengah berjalan bersama menuju luar gedung kampus,

“Rumah lu dimana, Rem?” Tanya Ana hati-hati.

“Cibinong. Kalau lu?” Remy pun kembali menanyakan pertanyaan dengan harapan percakapan ini tidak ada akhirnya.

“Loh, sama! Di sebelah mananya?”

“Gue sebelum CCM, kalau lu?”

“Yah, lumayan berarti yaaa, gue deket Setu Dora.”

“Hmm.. mau bareng? Ya sampai perempatan aja sih.” Ucap Remy hati-hati meski sebenarnya, ia ingin mengantar Ana sampai rumahnya.

“Ah, gak usah. Gue punya temen barengan kok, kapan-kapan aja kali ya kalau lagi buru-buru.” ucap Ana senang karena akhirnya ada juga pria yang mengajaknya pulang bareng, seperti di novel saja, pikirnya.

“Oh, okay.” Remy pun tersenyum.

“Okay, duluan ya!” salam perpisahan dari Ana.

Remy sepertinya enggan untuk memalingkan wajahnya. Ia tampak terkesima dengan percakapan singkat yang mereka lakukan.

“Ayo, Rem!” tiba-tiba Fahri –teman sekelas Remy- muncul dan mengajaknya saat melihat Remy tak berhenti memandang Ana.

Remy kenapa melihat Ana sampai seperti itu? Dia… suka Ana?

To be continue….

SIMILAR POSTS

Jumat, 25 September 2015

Ano Hana - The Flower We Saw That Day (Live Action)



Ano Hana sebenarnya film yang diadopsi dari anime yang berjudul sama. Sesungguhnya, anime ini lebih tentang persahabatan sih daripada tentang percintaan meski ada tentang percintaannya. Kalau dari animenya, awal-awal anime nya lucu karena tokoh utamanya, Menma, sosok hantu yang ceria. Iya, Menma itu kembali ke bumi untuk mengabulkan permintaan ibunya Jintan. Dengan tingkah Menma yang menggemaskan ngebuat gue suka banget sama karakternya haha.
Tapi, begitu mulai episode-episode akhir sekitar episode 6 keatas, kesedihan pun dimulai dan gue nangis sejadi-jadinya! Kalau butuh film/anime yang sedih-sedih, ini recommended banget!

Kurang lebih Sinopsisnya seperti ini:

“Kisah yang menceritakan kehidupan dari sebuah kelompok yang beranggotakan 6 teman masa kecil yang mulai terpecah setelah salah satu dari mereka, Meiko “Menma” Honma, meninggal dalam sebuah kecelakaan. Selama sepuluh tahun setelah kecelakaan tersebut, ketua dari kelompok anak-anak tersebut, Jinta Yadomi, memilih menjauh dari masyarakat dan mengurung dirinya di rumah. Suatu hari di musim panas, munculah hantu seorang gadis yang mirip dengan Menma di hadapannya dan memintanya untuk mengkabulkan permohonannya, sehingga ia bisa dengan tenang pergi ke surga. Awalnya, Jinta hanya mencoba menolong hantu gadis tersebut sebisa yang ia bisa. Tetapi semenjak Menma tidak ingat permohonan apa yang ia inginkan, Jinta pun memutuskan untuk mengumpulkan para teman lamanya di dalam kelompok tersebut bersama-sama, dan meminta bantuan mereka memecahkan keinginan “misterius” milik Menma tersebut. Perjuangan untuk mengkumpulkan ke 4 teman lainnya dan penampakan hantu Menma yang hanya dapat dilihat oleh Jinta saja, sangatlah membuat hal ini tidak mudah, ditambah lagi munculnya berbagai konfik yang berhubungan dengan insiden kematian Menma, perasaan dari masing-masing mereka yang tersembunyi selama sepuluh tahun, serta perasaan yang saling menyalahkan antara satu dengan yang lain pun mewarnai kisah hidup dari kelima teman masa kecil ini. Seiring waktu mereka bersama kembali, sedikit demi sedikit kelima teman masa kecil ini pun mulai bertambah dewasa dan menerima satu sama lainnya dan bersama-sama mereka pun berusaha mengkabulkan permohonan dari teman lama mereka Menma.”

Ini penampakkan mereka di anime


Ini penampakkan mereka di Live Action (filmnya)


Ini trailer nyaaa semoga suka yah! *siapin tissue*

  Dan ini soundtracknya yang sukses bikin gue baper

Kamis, 24 September 2015

College Life Part 3


Fahri POV’s


Entah kenapa sejak awal pendaftaran, gue udah liat cewek itu. Sempat intip-intip namanya, dan namanya Ana, ya. Dan gue gak nyangka, akan sekelas dengannya. Jodoh kah?

Ana Wafirna, anak pertama dari dua bersaudara. Saat pertama kali lihat dia, dia seperti tidak suka dengan perkuliahan disini, namun lama-lama sifat aslinya mulai muncul dan ternyata dirinya sangat ceria, ya, gak se-kaku yang gue bayangin.

Gue Fahri, seharusnya gue udah kuliah semester 3 sekarang. Namun karena gue gak suka sama jurusan  yang dulu gue ambil, gue memilih untuk mengulang di jurusan yang baru dan begitu mengetahui ada cewek sesempurna Ana, gue sadar seharusnya gue bisa sama cerdasnya dengan dirinya biar dia tau dan notice gue kalau gue ‘tuh sebanding dengan dirinya.
Gue mungkin gak se-keren Remy dan gak bisa se-agresif dia, tapi faktanya, gue mau bisa deket dengan Ana. Tapi, gimana caranya? Jujur aja, sih, gue cemburu abis kalau liat Remy dekat dengan Ana. Apa yang harus gue lakuin agar mereka tidak dekat lagi, ya?
“Hoy, ngelamun aja lo!”
Gue yang sedang memainkan pulpen tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran Remy yang sedang menggenggam ponselnya. Saat melihat ponsel Remy, tiba-tiba gue kepikiran sesuatu.
“Eh, men, hp gue gak pulsa nih, boleh pinjem SMS gak?”
Ana POV’s

Remy jalan bersandingan denganku, entah mengapa, ada aroma manis nan menenangkan ditubuhnya yang membuatku ingin terus bersamanya. Dengan balutan celana jeans, kemeja berwarna hitam dan jaket berwarna abu-abu yang ia kenakan, membuat Remy sangat enak dipandang. Apalagi mata bulatnya sangat indah –tunggu, apa yang aku bilang? Indah? Enak dipandang? Ingin bersamanya? Duh, ngawur!

Tanpa terasa aku pun memperlambat langkahku. Aku ingin lebih lama berjalan bersandingan dengannya meski tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir kami berdua. Seketika, aku ingin melihat penampilanku hari ini. Tanpa berkata padanya, aku langsung berbelok kearah toilet.
Toilet di siang hari rupanya tak seramai yang aku pikirkan. Dengan percaya diri aku melihat diriku di cermin besar yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhku. Cukup dengan kemerja berwarna putih, jeans hitam dan balutan kalung aku merasa cukup percaya diri. Lalu, aku menambah polesan lipstick dibibirku.

Hey wait, kenapa aku segenit ini??

Remy POV’s


Tadinya gue jalan bareng Ana menuju kelas. Aroma tubuhnya semerbak banget, coy. Bikin gue betah nempel sama dia. Gaya simpelnya juga minta banget digandeng tapi gue harus tahan diri nanti dia malah ilfeel sama gue. Duh, jangan sampe deh!

Saat gue memasuki kelas, gue ngeliat sohib baru gue si Fahri ngelamun mainin pulpen kayak orang naber, tapi sayangnya saat gue kagetin dia, dia gak naber sih.
“Eh, men, hp gue gak pulsa nih, boleh pinjem SMS gak?”
Tentu saja sebagai sohib yang baik dan tidak sombong serta rajin menabung pulsa –gue jomlo men gak ada yang SMS gue, gue pinjemin deh.
“Okay, nih pake aja sesuka hati lo,”
Tiba-tiba gue inget belum pinjem buku ke perpus padahal kelas 15 menit lagi mulai, gue harus buru-buru nih.
“Btw, Ri, gue tinggal bentar ya belom pinjem buku ke perpus nih mati lah gue gak boleh masuk kelas entar!”
“Oh, iya iya Rem! Cepet ye!” kata Fahri mengingatkan.
“Sip! Nanti kalo udah kelar balikin aja ke tas gue!”
Fahri pun mengangguk patuh layaknya hewan peliharaan gue.

Normal POV’s


Ana pun keluar dari toilet dan mendapati Remy tengah berlari melewati dirinya. Aroma tubuh Remy pun tercium nan menenangkan untuknya.
Kenapa cowok bisa se-wangi itu sih? Bikin melting! Ucap Ana dalam hati.
Ana pun melihat jam yang menggantung indah ditangan kecilnya, ia melihat kalau kelas akan mulai 15 menit lagi, ia langsung bergegas menuju kelas. Ana pun duduk di row ke 3 lantaran di tempat itu masih ada satu kursi kosong yang tersisa. Sejujurnya ia ingin merasakan duduk di row ke 4 namun ia menghindari tempat paling belakang di kelas karena disanalah Remy duduk. Ana takut tidak fokus nantinya.

Fahri pun celingukan melihat sekeliling ketika ia menghirup aroma tubuh Ana yang semerbak wanginya dan ia pun mendapati Ana sudah duduk manis di serong sebelah kanannya. Wajah putihnya memerah lantaran sengatan matahari siang. Fahri pun mengecek aplikasi BBM yang ada di ponsel Remy.

Sejujurnya, dirinya meminjam ponsel Remy bukan untuk mengirim SMS tapi ia penasaran sedekat apa Remy dengan Ana. Saat di cek, ternyata begitu panjang dan banyak isi chatting mereka yang dilakukan rutin setiap hari.

Dengan suasana kelas yang panas dan hatinya yang mendadak panas, tanpa pikir panjang Fahri pun mengakhiri obrolan yang dilakukan Remy dan Ana di BBM. Ia pun langsung membuka kontak Ana disana, dan mengklik tulisan delete contact.

To be continue….

Makhluk Bernama Pria



Biasanya sih kalau ngebahas cowok, yang pertama ada di otak gue adalah cowok impian gue. Kayak apa tuh cowok impian gue? Gue gak muluk-muluk sih yang penting se-iman, sholat 5 waktu, bisa baca Al-Qur’an, baik, gak perhitungan, good looking, has a good style, has a good smells, SMART (it’s a must), sabar (karena gue kadang bisa menjelma jadi wanita posesif dan wanita tidak peduli secara bersamaan), dan yang terpenting adalah setia.

Tapi sejujurnya gue gak akan ngebahas tentang tipe cowok impian gue sih melainkan gue bakal ngebahas seperti apa sih para cowok di mata gue. Soalnya, temen gue Ivan, dia selalu aja memandang cewek sesuai sudut pandangnya tanpa melihat dari sisi lainnya.
Sebelumnya gue cuma mau bilang kalau tipe-tipe cowok kayak yang akan gue sebutin berdasarkan pengalaman gue.

Oke pertama, cowok itu egois.

Mungkin Ivan bilang kalau yang egois itu cewek, tapi sesungguhnya cowok itu egois. Karena emang setiap orang punya sisi egois. Contoh:

  • Mereka bisa sesuka hati ngomong kasar tanpa mikirin hati orang lain
Tbh, gue gak suka di kasarin. Baik secara verbal maupun perlakuan tapi cowok-cowok sekarang keseringan asal jeplak anggota keluarganya dibawa-bawa tanpa pandang bulu karena katanya mereka menganggap cewek udah emansipasi. Tapi men, lo harus tau kalau cewek itu lebih mengedepankan perasaan daripada otak
  • Selanjutnya mereka bisa pipis berdiri dimanapun, sementara cewek enggak.

  • Cowok cenderung diberi kebebasan lebih sementara cewek enggak dan kami mencoba memahami itu. Masih bilang kami egois?

Kedua, cowok itu tukang PHP, modus dan pintar merayu.

Based on my experience, gue pernah ditembak sama cowok tapi kita sepakat untuk gak pacaran tapi satu bulan kemudian dia menghilang tanpa jejak setelah bikin gue ke angkasa. Sakit woy!! Udah gitu, orang itu minta gue gak bilang siapa-siapa while all the people knows that I’m the first one who loves him, dan dia mau membiarkan seperti itu dan menginjak-injak harga diri serta martabat gue. Cowok macam apa itu hah?

Selanjutnya gue pernah deket sama orang yang tukang modus dan pintar merayu. Menurut dia, dia udah biasa manggil semua cewek ‘Bep’ ‘Say’ dan panggilan khusus lainnya tapi kan gue jadi nge-fly.. oke kalau yang ini gue baper.

Trus, cowok itu suka nyentuh cewek. Asal kaum cowok tau aja sih, cewek kalau dipegang bahu nya aja tuh udah langsung deg-degan sekalipun kalian bukan cowok yang ditaksir karena ada getaran tersendiri gitu. Jadi, kalau emang kalian para cowok gak tertarik sama cewek itu, don’t make a touching contact ok.

Cowok PHP selanjutnya adalah saat tiba-tiba hari ini ngedeketin trus besoknya gak ngedeketin lagi. Hah! Kalau gak niat mah gak usah.

Ketiga, cowok suka kabur.

Gue sampe sekarang gak ngerti sama kebiasaan cowok-cowok yang suka ngabur gak jelas kayak gini. Mendadak menghilang tanpa jejak, sok dicari lu. Kayak misalnya lagi asyk-asyik chat tau-tau offline atau gak bales-bales atau tau-tau ganti nomer. Kenapa sih begitu?

Terakhir, kode.

Cowok itu katanya gak mau kalau cuma sekedar diberi kode-kode gajelas, katanya ‘Mulut ada kenapa gak di pake?’ tapi, giliran kami mengungkapkan keinginan kami, kami bisa aja dibilang murahan. Makanya peka aja kek! Gak ada istilahnya cewek ngelamar cowok, adanya cowok yang ngelamar cewek, jadi mulai sekarang jangan pernah komplen kalau kami hanya memberikan kode. Karena kami melatih seberapa intensnya kalian mengerti kami. Kami para wanita bukan hanya butuh perhatian tapi juga butuh kepastian masa depan. Mohon mengertilah.

ASEK

Locked Away - R. City Ft. Adam Levine

 Ada satu lagu yang lagi gue suka, bercerita tentang keraguan kesetiaan. Istilahnya kayak kalau gue nunjukin hal buruk yang ada di diri gue, lo bakal tetap sama gue gak? Kurang lebih, lagu ini cocok kalau lo ragu sama pasangan lo. Suruh aja dia dengerin dan semoga dia ngerti sih. Kalau dia gak ngerti, suruh cari liriknya dan translate.




[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Right about now...
If a judge for life me...
Would you stay by my side?
Or is ya gonna say good-bye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty would it be alright
Come and show me that you are down

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A gal I know that I can trust...
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love...
Would that even be enough?
Gal meh need fi know

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a gal who's always by my side...
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yea?
Or is ya just tryna play me?
Cause I need a gal to hold me down for life...

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly...
Would you still love me the same?

Would you still love me the same?

Source: http://www.azlyrics.com/lyrics/rcity/lockedaway.html

Rabu, 23 September 2015

College Life Part 2



REMY POV’s

Punya dosen yang suka ngebanyol seru juga ya ternyata. Tanpa sadar pun syaraf ketawa gue terus-terusan terangsang. Tapi ngomong-ngomong, gue udah dua jam di kelas ini tapi masih belum tau nama cewek masam yang sedaritadi gue liat dia udah mulai ikutan ketawa.
Oke, gue gak begitu peduli sih sama dia.
Dan tanpa terasa kelaspun berakhir dan gue harus kembali ke habitat gue.
“Wes, Remy! Si maba baru pulang ngampus nih?” suara ngebass itu? Itu temen gue namanya Riqi. Dia dua tahun diatas gue.
Tiba-tiba kepala gue diteplak seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Adi. Dia memang punya hobi teplak pala orang.
“Iya, baru balik gue. Asem nih, bagi dong!”
Temen-temen gue yang udah biasa dikodein cewek pun langsung peka sama kode yang gue berikan. Namun, tiba-tiba, dalam dua kali isapan, gue mendadak kepikiran dan penasaran, apakah si cewek masam yang masih belum gue ketahui namanya itu suka cowok perokok? Karena sepertinya, dia cewek alim nan baik-baik yang peduli dengan kesehatan.
Dan bodohnya, buat apa gue mikirin hal itu?

ANA POV’s

Aku benar-benar benci dengan orang yang merokok di kendaraan umum! Dalam perjalanan pulang dari kampus, aku pasti akan terus menaiki angkutan umum lantaran orang tuaku tidak mengizinkanku mengendarai kendaraan pribadi. Karena aku cewek, katanya, dan mereka takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau aku mengendarai kendaraan pribadi.
Berhubung orang itu lebih tua dariku, aku jadi tidak bisa menegurnya lantaran ‘ngeri’ dianggap tidak sopan. Jadilah aku hanya berpura-pura batuk didekatnya.
Tanpa terasa, akhirnya aku sampai di rumah. Aku berjalan sedikit dan memasuki pelataran rumahku. Tampak depan rumahku sih seperti rumah normal kebanyakan, namun terkadang aku takut kalau harus memasuki rumah bercat orange itu.
Oke, ini masih siang dan bokap pasti belum pulang.
Aku mengucapkan salam lalu memasuki kamarku. Aku merasa, kehidupan perkuliahan yang akan kujalani masih belum terlihat titik terang keseruannya. Tapi gak masalah sih karena tujuanku kuliah untuk menuntut ilmu bukan untuk menuntut keseruan.
Semakin larut aku berpikir, semakin aku terasa mengantuk…

Normal POV’s

Remy memarkirkan motronya di pelataran parkiran kampus yang akan menjadi saksi bisu kisah mereka berdua dan Ana pun baru saja turun dari angkutan umum yang ia naiki. Meski berada di jarak dan tempat berbeda, mereka berada di tujuan yang sama yaitu kelas.

Berhubung absen sudah dimulai, nama-nama pun sudah tercantum dan kini Remy mengetahui nama cewek yang ia anggap berwajah masam yaitu Ana.

Meski pendiam, sesungguhnya Ana adalah pengamat dan peneliti yang jeli. Meski sedikit berbicara, ia mengetahui banyak hal yang pastinya akan membuat teman-teman sekelasnya terkagum-kagum olehnya.

Dan semua terjawab saat satu minggu pertama mulai aktif perkuliahan. Remy pun menyadari bagaimana cerdasnya Ana berbicara, mengemukakan pendapatnya dan dari setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir kecilnya terkadang sulit di cerna oleh teman-temannya.

Hingga akhirnya Remy memberanikan diri untuk menyapa Ana,


“Eh, nama lo siapa sih?” Tanya Remy spontan.
“Ana, kenapa?”
“Oh, gak apa-apa, takut salah aja,”


Dan kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua. Ana yang sudah mengetahui nama Remy pun hanya melihatnya sekilas dan kembali berpaling. Sempat ada perasaan aneh di dada Ana, namun ia tak memperdulikannya.

Hari-hari pun berlalu dan mereka hanya bisa saling menatap dalam diam. Ana yang sadar akan kecanggungan ini pun semakin penasaran ada apa dengan Remy. Sampai akhirnya ia tertarik dan ingin mengetahui Remy lebih dalam.

Dan Ana pun memutuskan untuk memberanikan diri menyapa Remy saat mereka tengah berjalan bersama menuju luar gedung kampus,

“Rumah lu dimana, Rem?” Tanya Ana hati-hati.

“Cibinong. Kalau lu?” Remy pun kembali menanyakan pertanyaan dengan harapan percakapan ini tidak ada akhirnya.

“Loh, sama! Di sebelah mananya?”

“Gue sebelum CCM, kalau lu?”

“Yah, lumayan berarti yaaa, gue deket Setu Dora.”

“Hmm.. mau bareng? Ya sampai perempatan aja sih.” Ucap Remy hati-hati meski sebenarnya, ia ingin mengantar Ana sampai rumahnya.

“Ah, gak usah. Gue punya temen barengan kok, kapan-kapan aja kali ya kalau lagi buru-buru.” ucap Ana senang karena akhirnya ada juga pria yang mengajaknya pulang bareng, seperti di novel saja, pikirnya.

“Oh, okay.” Remy pun tersenyum.

“Okay, duluan ya!” salam perpisahan dari Ana.

Remy sepertinya enggan untuk memalingkan wajahnya. Ia tampak terkesima dengan percakapan singkat yang mereka lakukan.

“Ayo, Rem!” tiba-tiba Fahri –teman sekelas Remy- muncul dan mengajaknya saat melihat Remy tak berhenti memandang Ana.

Remy kenapa melihat Ana sampai seperti itu? Dia… suka Ana?

To be continue….