Locked Away - R. City Ft. Adam Levine

 Ada satu lagu yang lagi gue suka, bercerita tentang keraguan kesetiaan. Istilahnya kayak kalau gue nunjukin hal buruk yang ada di diri gue, lo bakal tetap sama gue gak? Kurang lebih, lagu ini cocok kalau lo ragu sama pasangan lo. Suruh aja dia dengerin dan semoga dia ngerti sih. Kalau dia gak ngerti, suruh cari liriknya dan translate.




[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Right about now...
If a judge for life me...
Would you stay by my side?
Or is ya gonna say good-bye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty would it be alright
Come and show me that you are down

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A gal I know that I can trust...
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love...
Would that even be enough?
Gal meh need fi know

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a gal who's always by my side...
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yea?
Or is ya just tryna play me?
Cause I need a gal to hold me down for life...

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly...
Would you still love me the same?

Would you still love me the same?

Source: http://www.azlyrics.com/lyrics/rcity/lockedaway.html

SIMILAR POSTS

College Life Part 2



REMY POV’s

Punya dosen yang suka ngebanyol seru juga ya ternyata. Tanpa sadar pun syaraf ketawa gue terus-terusan terangsang. Tapi ngomong-ngomong, gue udah dua jam di kelas ini tapi masih belum tau nama cewek masam yang sedaritadi gue liat dia udah mulai ikutan ketawa.
Oke, gue gak begitu peduli sih sama dia.
Dan tanpa terasa kelaspun berakhir dan gue harus kembali ke habitat gue.
“Wes, Remy! Si maba baru pulang ngampus nih?” suara ngebass itu? Itu temen gue namanya Riqi. Dia dua tahun diatas gue.
Tiba-tiba kepala gue diteplak seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Adi. Dia memang punya hobi teplak pala orang.
“Iya, baru balik gue. Asem nih, bagi dong!”
Temen-temen gue yang udah biasa dikodein cewek pun langsung peka sama kode yang gue berikan. Namun, tiba-tiba, dalam dua kali isapan, gue mendadak kepikiran dan penasaran, apakah si cewek masam yang masih belum gue ketahui namanya itu suka cowok perokok? Karena sepertinya, dia cewek alim nan baik-baik yang peduli dengan kesehatan.
Dan bodohnya, buat apa gue mikirin hal itu?

ANA POV’s

Aku benar-benar benci dengan orang yang merokok di kendaraan umum! Dalam perjalanan pulang dari kampus, aku pasti akan terus menaiki angkutan umum lantaran orang tuaku tidak mengizinkanku mengendarai kendaraan pribadi. Karena aku cewek, katanya, dan mereka takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau aku mengendarai kendaraan pribadi.
Berhubung orang itu lebih tua dariku, aku jadi tidak bisa menegurnya lantaran ‘ngeri’ dianggap tidak sopan. Jadilah aku hanya berpura-pura batuk didekatnya.
Tanpa terasa, akhirnya aku sampai di rumah. Aku berjalan sedikit dan memasuki pelataran rumahku. Tampak depan rumahku sih seperti rumah normal kebanyakan, namun terkadang aku takut kalau harus memasuki rumah bercat orange itu.
Oke, ini masih siang dan bokap pasti belum pulang.
Aku mengucapkan salam lalu memasuki kamarku. Aku merasa, kehidupan perkuliahan yang akan kujalani masih belum terlihat titik terang keseruannya. Tapi gak masalah sih karena tujuanku kuliah untuk menuntut ilmu bukan untuk menuntut keseruan.
Semakin larut aku berpikir, semakin aku terasa mengantuk…

Normal POV’s

Remy memarkirkan motronya di pelataran parkiran kampus yang akan menjadi saksi bisu kisah mereka berdua dan Ana pun baru saja turun dari angkutan umum yang ia naiki. Meski berada di jarak dan tempat berbeda, mereka berada di tujuan yang sama yaitu kelas.

Berhubung absen sudah dimulai, nama-nama pun sudah tercantum dan kini Remy mengetahui nama cewek yang ia anggap berwajah masam yaitu Ana.

Meski pendiam, sesungguhnya Ana adalah pengamat dan peneliti yang jeli. Meski sedikit berbicara, ia mengetahui banyak hal yang pastinya akan membuat teman-teman sekelasnya terkagum-kagum olehnya.

Dan semua terjawab saat satu minggu pertama mulai aktif perkuliahan. Remy pun menyadari bagaimana cerdasnya Ana berbicara, mengemukakan pendapatnya dan dari setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir kecilnya terkadang sulit di cerna oleh teman-temannya.

Hingga akhirnya Remy memberanikan diri untuk menyapa Ana,


“Eh, nama lo siapa sih?” Tanya Remy spontan.
“Ana, kenapa?”
“Oh, gak apa-apa, takut salah aja,”


Dan kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua. Ana yang sudah mengetahui nama Remy pun hanya melihatnya sekilas dan kembali berpaling. Sempat ada perasaan aneh di dada Ana, namun ia tak memperdulikannya.

Hari-hari pun berlalu dan mereka hanya bisa saling menatap dalam diam. Ana yang sadar akan kecanggungan ini pun semakin penasaran ada apa dengan Remy. Sampai akhirnya ia tertarik dan ingin mengetahui Remy lebih dalam.

Dan Ana pun memutuskan untuk memberanikan diri menyapa Remy saat mereka tengah berjalan bersama menuju luar gedung kampus,

“Rumah lu dimana, Rem?” Tanya Ana hati-hati.

“Cibinong. Kalau lu?” Remy pun kembali menanyakan pertanyaan dengan harapan percakapan ini tidak ada akhirnya.

“Loh, sama! Di sebelah mananya?”

“Gue sebelum CCM, kalau lu?”

“Yah, lumayan berarti yaaa, gue deket Setu Dora.”

“Hmm.. mau bareng? Ya sampai perempatan aja sih.” Ucap Remy hati-hati meski sebenarnya, ia ingin mengantar Ana sampai rumahnya.

“Ah, gak usah. Gue punya temen barengan kok, kapan-kapan aja kali ya kalau lagi buru-buru.” ucap Ana senang karena akhirnya ada juga pria yang mengajaknya pulang bareng, seperti di novel saja, pikirnya.

“Oh, okay.” Remy pun tersenyum.

“Okay, duluan ya!” salam perpisahan dari Ana.

Remy sepertinya enggan untuk memalingkan wajahnya. Ia tampak terkesima dengan percakapan singkat yang mereka lakukan.

“Ayo, Rem!” tiba-tiba Fahri –teman sekelas Remy- muncul dan mengajaknya saat melihat Remy tak berhenti memandang Ana.

Remy kenapa melihat Ana sampai seperti itu? Dia… suka Ana?

To be continue….

SIMILAR POSTS

College Life Part 1



ANA POV’s

Earphone yang mengganjal di telingaku mulai memenuhi syaraf otak dikepalaku. Mungkin, di bagian otak kananku sudah dipenuhi dengan playlist favorit yang sering dikumandangkan. Dengan langkah gontai aku memasuki kelas baru yang entah siapa yang akan menjadi teman, sahabat atau bahkan –ehm, pacarku nantinya. Mungkinkah akan ada pria spesial disana?

Tanpa ragu, aku menduduki kursi paling depan yang berada di kelas ini. Bukan, bukannya aku mau ‘sok pintar tapi memang hanya tersisa kursi itu dan aku malas kalau harus berkeliling kebelakang mencari kursi yang kosong.

Saat aku duduk, ada seorang wanita berambut sebahu di samping kananku dan ada seorang wanita berambut pirang di samping kiriku. Mereka mengobrol disaat aku ada ditengah-tengah mereka. Bukankah itu menjengkelkan?

Lagi, aku hanya bisa diam mendengarkan alunan Locked Away nya Adam Levine ft. R. City. Dan aku pun hanya menunduk melihat sepatuku yang tak kusadari ternyata talinya lepas sedaritadi. Alih-alih mengaitkannya kembali, aku malah mendiamkannya dan cenderung menggoyang-goyangkannya.

Namun, ada hal aneh saat aku mulai tegak memandang di hadapanku. Ada seorang pria disana yang sepertinya baru saja memperhatikanku. Hmm gak mungkin sih ya sepertinya aku hanya berkhayal.
Dan seorang dosen pun memasuki kelasku.

REMY POV’s


Gila kali kalau setiap hari harus naik tangga sampai lantai 5! Ada lift, sih, tapi cuma untuk rektor, wadafak men! Anak tangga demi anak tangga pun harus gue tempuh dari lantai 1 dan disaat-saat seperti inilah saatnya gue berharap punya pintu kemana sajanya Doraemon.

Saat menginjak lantai 4, gue bara aja sadar ada cewek dengan muka masam berjalan mendahului gue. Rambut panjang hitam yang digerainya tetap gak bisa menutupi earphone yang ia kenakan. Entah kenapa, gue mendadak merasakan sesuatu yang menarik akan terjadi dan tanpa sadar, gue menyunggingkan senyum termanis yang pernah gue miliki.

Gue pun melanjutkan perjalanan, lalu tiba lah gue dilantai 5, saat memasuki kelas, di bangku paling depan –gue antara terkejut dan enggak terkejut, sih, lantaran entah kenapa gue udah yakin aja cewek yang tadi gue temuin di lantai 4 bakal menjadi teman sekelas gue. Ya jelas aja sih, di topi OSPEK nya ada angka 5! Hahahaha.

Untung aja saat gue perhatiin, dia sedang sibuk ngedumel (maksud gue nyanyi-nyanyi gak jelas lantaran earphone ditelinganya terlihat masih mengeluarkan suara) sambil meratapi tali sepatunya yang lepas. Dan tiba-tiba, dia sadar kalau gue sedang memperhatikan dia.
Dan dosen berambut hitam legam pun memasuki kelas.

To be continue…

SIMILAR POSTS

Love or Lust


My lecturer said that love can be a noun. Even tho that words can change into progressive, past and the perfect tenses, but we can feel love, can’t we? Even tho’ we can’t see it, of course. But honestly, it pretty hard for me to know am I falling in love or just I like someone.

And I think Like is the same with Lust. Do you know Lust? Yes, it’s temporarily and if we got the climax, it can go easily. Got it?

Don’t think the porn thing ok. Because I didn’t mean it.

You know, there’s so much love song. And I’ll take the examples with Pia Mia’s song with Chris Brown and Tyga –Do it Again (because this song is so easy-listened and I like it)

Hey boy, when I first met you, thought it was special

I told myself that

Okay not told myself but told you that
And I get really confuse with this part

…I bet true love was pouring

Did you know that love can come if you like someone more than 4 months? And yes, my teacher –when I was in JHS told that. And dunno why I believed it. And on that part it means Pia Mias just met and did one night stand with a man she never met before but she felt click on the first night.

Btw, I have a story to share you all. On January or February 2015 (I’m a bit forget), I got a new friends, he’s a modus man maybe and woman will fly with those words. And I am a woman, is it normal for me if I feel ‘fly’? Yes, for me it’s normal but even tho I already had a boyfriend but I can controlled it so don't worry.
On the first trimester –no, I’m not pregnant. I mean on that time I’m still waiting for him, if he didn’t chat me but then slow but sure I’m totally forget about him until on the 4th month, he chat me and I didn’t feel anything.

Does it mean I just like him, right? Okay, I am a baper woman, sometimes.

And now, I feel the same way. It feels awkward and I hate it if I know it’ll be a long day I didn’t meet him. I hope this is just a lust and I can forget him ASAP.

Even tho on Pia Mia’s song I feel the same way,
It’s nice to know you let’s do it again
*sensor*
Boy, I wanna be more than a friend to ya

Ahahaha forget it.

Btw, if you wanna know that song, let’s open this video. Pia is so beautiful!

SIMILAR POSTS

Menjadi Dewasa



When I was a kid, I used to think what will I be when I grow up. Now, just a middle-little-step to be an adult but I’m beginning to endure it.
Guys, jadi orang dewasa itu gak enak. Banyak pengeluaran, banyak tanggungan, banyak hal yang dulunya ditanggung orang tua jadi lo tanggung sendiri.

My dad stops giving me money routine a year ago since I already have a job.


Tapi semua gak seenak yang lo pikirin, maybe you’ll think ‘Gaji lo gede, men. Wajar lah kalau bokap lo udah gak ngasih lagi.’

Eits, hal ‘enak’ yang lo pikirin gak semudah itu gue dapetin.

Okay, I admit it I got one of my dream job. When I was in Junior High School, I wanna be a writer. And here I am being an article re-writer at one of viral website. But it’s not as easy as you think. Maybe I’m a lucky –some people will think like that, but actually I know this is the answer with all of the things I want when I tell Allah.

Kalau lo kira hidup gue baik-baik aja. Lo salah.

Life is an adventure.

Slogan iklan rokok itu bener loh. Hampir setahun gue ngerasain titik terendah dan titik pembelajaran serta pendewasaan di hidup gue. Mulai dari lulus sekolah farmasi tahun 2014 kemarin, gue pikir kehidupan gue akan semakin baik tapi ternyata banyak banget kerikil hidup yang gue alamin.
Mulai dari pendewasaan diri gue bahkan sampai permasalahan keluarga.

Nobody knows about this except Gusti *cieee( ・´Ð·・`)


Tempat nangis, tempat ketawa, tempat gue cerita segala hal mulai dari kepengen kentut –anjir jorok, sampe hal-hal berat kayak kangen masa lalu –serius loh segini terbukanya gue dengan Gusti- dan Gusti tau semuanya tapi tetep sabar ngadepin tingkah gue.

Okay kembali ke proses pendewasaan.

Semenjak memutuskan gakmau balik menjadi asisten apoteker alias banting stir, nyokap sempet gak sejutu karena ngerasa sayang ilmunya tapi toh segala keilmuan pasti kepake kan? Sampe sekarang juga kalau saudara atau tetangga-tetangga nanya obat masih sama gue dan Alhamdulillah gue masih inget dan bisa kejawab. Sempet cekcok, berantem adu mulut karena gue mau nunjukin ini loh jalan yang gue ambil dan plis beri keridhoan.

Ditambah dulu setelah resign dari rumah sakit gue gak langsung dapet pekerjaan enak. Harus ngerasain yang namanya gaji bulanan gak tetap. Mulai dari 100-300rb pun pernah gue rasain. Jadi, segala sesuatunya harus dari nol kayak pom bensin.
Gak deng. Quote favorite gue dari Apoteker tempat gue kerja dulu kayak gini,

“Kalau mau nyampe 100 harus mulai dari 0”


Got it? Ngerti lah ya soalnya gue males jelasin hahahampun.

And yep, sekarang, di usia 18 tahun meski baru setengah tahun ngerasain enaknya kerja, gue udah harus mulai menata hidup. Mulai dari nabung bulanan, bayar asuransi kesehatan bulanan dari pemerintah –yang ituloh inisialnya B belakangnya S tengahnya PJ- iya, gue bayar bulanannya sendiri. Ditambah bokap udah gak ngasih uang jajan rutin kan –ya, sebulan sekali minta 10rb mah dikasih- jadi gue harus pinter-pinter manage keuangan karena emang pada dasarnya wanita harus pinter ngatur keuangan. Soalnya nanti kalau nikah sama cowok yang rata-rata boros itu bisa susah deh. Trus pengeluaran pulsa internet, daily skincare, baju-baju baru, jalan sama temen, ke salon dan macam-macam yang masih pengen dirasain anak-anak muda kayak gue. Dan itu semua harus pinter-pinter gue atur kalo enggah, matilah gak ada sisa.

Untungnya sih keperluan kuliah masih dibantu bokap sampai detik ini tapi gatau deh semester depan (hah doakan yah biar dibiayai sampai lulus bahkan sampai S2)

Jadi intinya, jadi orang dewasa itu sulit makanya hidup jangan dipersulit karena emang udah sulit nanti makin sulit jadi tambah sulit.

But life’s must go on, perlahan tapi pasti nanti juga lama-lama terbiasa sama 'keras’nya dunia.
Yok se-ma-ngat!

SIMILAR POSTS

Mimpi VS. Kenyataan

All the things on your dreams is not only a dream. It's a must for you to pursue any dream what you've dream.
Kedengerannya gampang ya? Toh, tinggal mimpi trus dapetin. Tapi nyatanya? Gak semua hal yang emang lo pengen tuh bakal kesampean.
Contoh:
1. Waktu kecil gue mau jadi dokter. Alesannya? Simpel. Tiap anak  kecil dulu kalo di tanya cita-cita pasti jawabnya mau jadi dokter lah, pilot, arsitek, guru, profesi-profesi terkenal deh. Trus nyatanya? Gue takut darah. Pernah kena pisau lagi masak. Enggak, gak trauma sama pisau. Tapi darahnya itu. Ngucur deres di bak cucian piring bikin gue nangis histeris sampe pingsan. Lebay ya? Ya, emang gitu kenyataannya. Akhirnya gue gak bercita-cita lagi jadi dokter.
2. Terlepas dari cita-cita gue yang jadi dokter. Gue masih pengen jadi tenaga kesehatan. Akhirnya gue di arahin ke Farmasi sama bokap dengan alasan untuk jadi Apoteker. Ya, untuk jadi Apoteker. Akhirnya gue masuk SMK Farmasi Swasta di kota tempat tinggal gue. Alhamdulillah, gue lulus dengan terbaik ke tiga. Seneng dong. Orangtua bangga juga. Trus lulus gue jadi Apoteker? Kaga cuy. Gue baru jadi Asisten Apoteker (sekarang tenaga teknis kefarmasian) gue punya Tante dan Oom yang juga Apoteker. Tante gue kerja di industi, Oom gue jadi PNS dan kerja di Puskesmas. Itu salah satu alasan gue mau jadi Apoteker karena ngeliat Tante dan Oom gue. Trus selesai sekolah farmasi yang jadi Asisten Apoteker, gue disuruh kerja sama nyokap. Alasannya, nyobain dulu dunia kerja tuh gimana. Di bayangan gue tuh ya kayak waktu gue PKL di RSUD. Sama sih, gue kerja di Rumah Sakit juga. Bukan Rumah Sakit pemerintah, tapi punya nya Swasta gitu. Eh..... ambruk karena kerja shiftnya yang menurut gue "GILAAAAAA BARU PULANG JAM 11 TIDUR JAM 1 TRUS HARUS BANGUN JAM 5 KARENA BESOKNYA MASUK JAM 7 PAGI?????" tepar lah gue.... gak suka dengan kerja kayak gitu akhirnya gue resign. Gue gak pernah pengen jadi Asisten Apoteker. Gue kan pengennya jadi Apoteker. Tapi jadi gak kepengen karena jadi Apoteker juga harus pinter marketing. Yoilah bro kita jualan obat! Tapi jangan di anggap remeh juga sih karena ini berhubungan sama nyawa manusia. Kalo salah dosis gimana?
3. Dulu tuh kalo ngeliat profesi guru, yang ada di pikiran gue adalah gak sejahtera. Gak sejahtera dalam hal finansial (ya gue yakin lo ngerti maksud gue) akhirnya gue coba nanya ke salah satu guru gue "Enaknya jadi guru itu apa sih? Kan salary nya kecil" and then guru gue jawab "Guru... Enaknya? Ketemu murid yang karakternya macem-macem. Trus ketika kamu udah gak jadi gurunya. Anak murid kamu pasti tetep panggil dan anggap kamu Gurunya. Juga, ketika ilmu kamu bermanfaat untuk satu murid aja. Pahala kamu inshAllah gak akan terputus dan masih banyak lagi lah pokoknya. Ketika kamu udah ngerti itu semua, salary bukan hal penting lagi."
Kenyataannya adalah.... apa yang lo impikan sesungguhnya gak selamanya jadi apa yang lo inginkan. Lo boleh sekarang mimpi 'Gue mau jadi menteri' tapi kalo kenyataannya lo di ciptakan oleh Tuhan untuk jadi seorang Presiden, lo mau bilang apa?
Btw, gue gak ngelarang lo buat bermimpi tinggi. Tapi saat mimpi-mimpi lo gak jadi kenyataan, lo jangan sampe putus asa trus bunuh diri. Itu gak keren, men. Yang keren adalah, ketika lo berani nerusin jalan yang udah di tujukan dan di tentukan oleh Tuhan. Kemanapun jalan itu akan ngebawa lo, pada akhirnya lo akan nemuin jalan hidup dan jati diri lo yang sesungguhnya. Jadi, gak usah terburu-buru untuk mutusin 'Gue sekarang kuliah keperawatan, pasti nanti gue jadi perawat' iya emang bener kok. Tapi lo cinta gak sama pekerjaan lo? Mulia emang. Tapi kalo lo nelen pil pait terus gimana? Toh, tante gue yang perawat aja mau usaha cake&bakery. Trus nyokap gue yang lulusan Adm.perkantoran dan perbankan aja sekarang buka usaha catering. Jadi, kemana pun nanti Tuhan ngebawa lo. Jangan takut dan jangan kecewa. Karena Tuhan yang duluan tau lo nantinya akan jadi apa.
Oke?
Cheers.

Kamis, 24 September 2015

Locked Away - R. City Ft. Adam Levine

 Ada satu lagu yang lagi gue suka, bercerita tentang keraguan kesetiaan. Istilahnya kayak kalau gue nunjukin hal buruk yang ada di diri gue, lo bakal tetap sama gue gak? Kurang lebih, lagu ini cocok kalau lo ragu sama pasangan lo. Suruh aja dia dengerin dan semoga dia ngerti sih. Kalau dia gak ngerti, suruh cari liriknya dan translate.




[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Right about now...
If a judge for life me...
Would you stay by my side?
Or is ya gonna say good-bye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty would it be alright
Come and show me that you are down

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A gal I know that I can trust...
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love...
Would that even be enough?
Gal meh need fi know

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me? (Would you really cry for me?)
Baby don't lie to me
If I didn't have anything...
I wanna know would you stick around?

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

[R. City:]
Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a gal who's always by my side...
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yea?
Or is ya just tryna play me?
Cause I need a gal to hold me down for life...

[Adam Levine:]
If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly
Would you still love me the same?

If I got locked away
And we lost it all today...
Tell me honestly...
Would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly...
Would you still love me the same?

Would you still love me the same?

Source: http://www.azlyrics.com/lyrics/rcity/lockedaway.html

Rabu, 23 September 2015

College Life Part 2



REMY POV’s

Punya dosen yang suka ngebanyol seru juga ya ternyata. Tanpa sadar pun syaraf ketawa gue terus-terusan terangsang. Tapi ngomong-ngomong, gue udah dua jam di kelas ini tapi masih belum tau nama cewek masam yang sedaritadi gue liat dia udah mulai ikutan ketawa.
Oke, gue gak begitu peduli sih sama dia.
Dan tanpa terasa kelaspun berakhir dan gue harus kembali ke habitat gue.
“Wes, Remy! Si maba baru pulang ngampus nih?” suara ngebass itu? Itu temen gue namanya Riqi. Dia dua tahun diatas gue.
Tiba-tiba kepala gue diteplak seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Adi. Dia memang punya hobi teplak pala orang.
“Iya, baru balik gue. Asem nih, bagi dong!”
Temen-temen gue yang udah biasa dikodein cewek pun langsung peka sama kode yang gue berikan. Namun, tiba-tiba, dalam dua kali isapan, gue mendadak kepikiran dan penasaran, apakah si cewek masam yang masih belum gue ketahui namanya itu suka cowok perokok? Karena sepertinya, dia cewek alim nan baik-baik yang peduli dengan kesehatan.
Dan bodohnya, buat apa gue mikirin hal itu?

ANA POV’s

Aku benar-benar benci dengan orang yang merokok di kendaraan umum! Dalam perjalanan pulang dari kampus, aku pasti akan terus menaiki angkutan umum lantaran orang tuaku tidak mengizinkanku mengendarai kendaraan pribadi. Karena aku cewek, katanya, dan mereka takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau aku mengendarai kendaraan pribadi.
Berhubung orang itu lebih tua dariku, aku jadi tidak bisa menegurnya lantaran ‘ngeri’ dianggap tidak sopan. Jadilah aku hanya berpura-pura batuk didekatnya.
Tanpa terasa, akhirnya aku sampai di rumah. Aku berjalan sedikit dan memasuki pelataran rumahku. Tampak depan rumahku sih seperti rumah normal kebanyakan, namun terkadang aku takut kalau harus memasuki rumah bercat orange itu.
Oke, ini masih siang dan bokap pasti belum pulang.
Aku mengucapkan salam lalu memasuki kamarku. Aku merasa, kehidupan perkuliahan yang akan kujalani masih belum terlihat titik terang keseruannya. Tapi gak masalah sih karena tujuanku kuliah untuk menuntut ilmu bukan untuk menuntut keseruan.
Semakin larut aku berpikir, semakin aku terasa mengantuk…

Normal POV’s

Remy memarkirkan motronya di pelataran parkiran kampus yang akan menjadi saksi bisu kisah mereka berdua dan Ana pun baru saja turun dari angkutan umum yang ia naiki. Meski berada di jarak dan tempat berbeda, mereka berada di tujuan yang sama yaitu kelas.

Berhubung absen sudah dimulai, nama-nama pun sudah tercantum dan kini Remy mengetahui nama cewek yang ia anggap berwajah masam yaitu Ana.

Meski pendiam, sesungguhnya Ana adalah pengamat dan peneliti yang jeli. Meski sedikit berbicara, ia mengetahui banyak hal yang pastinya akan membuat teman-teman sekelasnya terkagum-kagum olehnya.

Dan semua terjawab saat satu minggu pertama mulai aktif perkuliahan. Remy pun menyadari bagaimana cerdasnya Ana berbicara, mengemukakan pendapatnya dan dari setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir kecilnya terkadang sulit di cerna oleh teman-temannya.

Hingga akhirnya Remy memberanikan diri untuk menyapa Ana,


“Eh, nama lo siapa sih?” Tanya Remy spontan.
“Ana, kenapa?”
“Oh, gak apa-apa, takut salah aja,”


Dan kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua. Ana yang sudah mengetahui nama Remy pun hanya melihatnya sekilas dan kembali berpaling. Sempat ada perasaan aneh di dada Ana, namun ia tak memperdulikannya.

Hari-hari pun berlalu dan mereka hanya bisa saling menatap dalam diam. Ana yang sadar akan kecanggungan ini pun semakin penasaran ada apa dengan Remy. Sampai akhirnya ia tertarik dan ingin mengetahui Remy lebih dalam.

Dan Ana pun memutuskan untuk memberanikan diri menyapa Remy saat mereka tengah berjalan bersama menuju luar gedung kampus,

“Rumah lu dimana, Rem?” Tanya Ana hati-hati.

“Cibinong. Kalau lu?” Remy pun kembali menanyakan pertanyaan dengan harapan percakapan ini tidak ada akhirnya.

“Loh, sama! Di sebelah mananya?”

“Gue sebelum CCM, kalau lu?”

“Yah, lumayan berarti yaaa, gue deket Setu Dora.”

“Hmm.. mau bareng? Ya sampai perempatan aja sih.” Ucap Remy hati-hati meski sebenarnya, ia ingin mengantar Ana sampai rumahnya.

“Ah, gak usah. Gue punya temen barengan kok, kapan-kapan aja kali ya kalau lagi buru-buru.” ucap Ana senang karena akhirnya ada juga pria yang mengajaknya pulang bareng, seperti di novel saja, pikirnya.

“Oh, okay.” Remy pun tersenyum.

“Okay, duluan ya!” salam perpisahan dari Ana.

Remy sepertinya enggan untuk memalingkan wajahnya. Ia tampak terkesima dengan percakapan singkat yang mereka lakukan.

“Ayo, Rem!” tiba-tiba Fahri –teman sekelas Remy- muncul dan mengajaknya saat melihat Remy tak berhenti memandang Ana.

Remy kenapa melihat Ana sampai seperti itu? Dia… suka Ana?

To be continue….

College Life Part 1



ANA POV’s

Earphone yang mengganjal di telingaku mulai memenuhi syaraf otak dikepalaku. Mungkin, di bagian otak kananku sudah dipenuhi dengan playlist favorit yang sering dikumandangkan. Dengan langkah gontai aku memasuki kelas baru yang entah siapa yang akan menjadi teman, sahabat atau bahkan –ehm, pacarku nantinya. Mungkinkah akan ada pria spesial disana?

Tanpa ragu, aku menduduki kursi paling depan yang berada di kelas ini. Bukan, bukannya aku mau ‘sok pintar tapi memang hanya tersisa kursi itu dan aku malas kalau harus berkeliling kebelakang mencari kursi yang kosong.

Saat aku duduk, ada seorang wanita berambut sebahu di samping kananku dan ada seorang wanita berambut pirang di samping kiriku. Mereka mengobrol disaat aku ada ditengah-tengah mereka. Bukankah itu menjengkelkan?

Lagi, aku hanya bisa diam mendengarkan alunan Locked Away nya Adam Levine ft. R. City. Dan aku pun hanya menunduk melihat sepatuku yang tak kusadari ternyata talinya lepas sedaritadi. Alih-alih mengaitkannya kembali, aku malah mendiamkannya dan cenderung menggoyang-goyangkannya.

Namun, ada hal aneh saat aku mulai tegak memandang di hadapanku. Ada seorang pria disana yang sepertinya baru saja memperhatikanku. Hmm gak mungkin sih ya sepertinya aku hanya berkhayal.
Dan seorang dosen pun memasuki kelasku.

REMY POV’s


Gila kali kalau setiap hari harus naik tangga sampai lantai 5! Ada lift, sih, tapi cuma untuk rektor, wadafak men! Anak tangga demi anak tangga pun harus gue tempuh dari lantai 1 dan disaat-saat seperti inilah saatnya gue berharap punya pintu kemana sajanya Doraemon.

Saat menginjak lantai 4, gue bara aja sadar ada cewek dengan muka masam berjalan mendahului gue. Rambut panjang hitam yang digerainya tetap gak bisa menutupi earphone yang ia kenakan. Entah kenapa, gue mendadak merasakan sesuatu yang menarik akan terjadi dan tanpa sadar, gue menyunggingkan senyum termanis yang pernah gue miliki.

Gue pun melanjutkan perjalanan, lalu tiba lah gue dilantai 5, saat memasuki kelas, di bangku paling depan –gue antara terkejut dan enggak terkejut, sih, lantaran entah kenapa gue udah yakin aja cewek yang tadi gue temuin di lantai 4 bakal menjadi teman sekelas gue. Ya jelas aja sih, di topi OSPEK nya ada angka 5! Hahahaha.

Untung aja saat gue perhatiin, dia sedang sibuk ngedumel (maksud gue nyanyi-nyanyi gak jelas lantaran earphone ditelinganya terlihat masih mengeluarkan suara) sambil meratapi tali sepatunya yang lepas. Dan tiba-tiba, dia sadar kalau gue sedang memperhatikan dia.
Dan dosen berambut hitam legam pun memasuki kelas.

To be continue…

Selasa, 22 September 2015

Love or Lust


My lecturer said that love can be a noun. Even tho that words can change into progressive, past and the perfect tenses, but we can feel love, can’t we? Even tho’ we can’t see it, of course. But honestly, it pretty hard for me to know am I falling in love or just I like someone.

And I think Like is the same with Lust. Do you know Lust? Yes, it’s temporarily and if we got the climax, it can go easily. Got it?

Don’t think the porn thing ok. Because I didn’t mean it.

You know, there’s so much love song. And I’ll take the examples with Pia Mia’s song with Chris Brown and Tyga –Do it Again (because this song is so easy-listened and I like it)

Hey boy, when I first met you, thought it was special

I told myself that

Okay not told myself but told you that
And I get really confuse with this part

…I bet true love was pouring

Did you know that love can come if you like someone more than 4 months? And yes, my teacher –when I was in JHS told that. And dunno why I believed it. And on that part it means Pia Mias just met and did one night stand with a man she never met before but she felt click on the first night.

Btw, I have a story to share you all. On January or February 2015 (I’m a bit forget), I got a new friends, he’s a modus man maybe and woman will fly with those words. And I am a woman, is it normal for me if I feel ‘fly’? Yes, for me it’s normal but even tho I already had a boyfriend but I can controlled it so don't worry.
On the first trimester –no, I’m not pregnant. I mean on that time I’m still waiting for him, if he didn’t chat me but then slow but sure I’m totally forget about him until on the 4th month, he chat me and I didn’t feel anything.

Does it mean I just like him, right? Okay, I am a baper woman, sometimes.

And now, I feel the same way. It feels awkward and I hate it if I know it’ll be a long day I didn’t meet him. I hope this is just a lust and I can forget him ASAP.

Even tho on Pia Mia’s song I feel the same way,
It’s nice to know you let’s do it again
*sensor*
Boy, I wanna be more than a friend to ya

Ahahaha forget it.

Btw, if you wanna know that song, let’s open this video. Pia is so beautiful!

Jumat, 18 September 2015

Menjadi Dewasa



When I was a kid, I used to think what will I be when I grow up. Now, just a middle-little-step to be an adult but I’m beginning to endure it.
Guys, jadi orang dewasa itu gak enak. Banyak pengeluaran, banyak tanggungan, banyak hal yang dulunya ditanggung orang tua jadi lo tanggung sendiri.

My dad stops giving me money routine a year ago since I already have a job.


Tapi semua gak seenak yang lo pikirin, maybe you’ll think ‘Gaji lo gede, men. Wajar lah kalau bokap lo udah gak ngasih lagi.’

Eits, hal ‘enak’ yang lo pikirin gak semudah itu gue dapetin.

Okay, I admit it I got one of my dream job. When I was in Junior High School, I wanna be a writer. And here I am being an article re-writer at one of viral website. But it’s not as easy as you think. Maybe I’m a lucky –some people will think like that, but actually I know this is the answer with all of the things I want when I tell Allah.

Kalau lo kira hidup gue baik-baik aja. Lo salah.

Life is an adventure.

Slogan iklan rokok itu bener loh. Hampir setahun gue ngerasain titik terendah dan titik pembelajaran serta pendewasaan di hidup gue. Mulai dari lulus sekolah farmasi tahun 2014 kemarin, gue pikir kehidupan gue akan semakin baik tapi ternyata banyak banget kerikil hidup yang gue alamin.
Mulai dari pendewasaan diri gue bahkan sampai permasalahan keluarga.

Nobody knows about this except Gusti *cieee( ・´Ð·・`)


Tempat nangis, tempat ketawa, tempat gue cerita segala hal mulai dari kepengen kentut –anjir jorok, sampe hal-hal berat kayak kangen masa lalu –serius loh segini terbukanya gue dengan Gusti- dan Gusti tau semuanya tapi tetep sabar ngadepin tingkah gue.

Okay kembali ke proses pendewasaan.

Semenjak memutuskan gakmau balik menjadi asisten apoteker alias banting stir, nyokap sempet gak sejutu karena ngerasa sayang ilmunya tapi toh segala keilmuan pasti kepake kan? Sampe sekarang juga kalau saudara atau tetangga-tetangga nanya obat masih sama gue dan Alhamdulillah gue masih inget dan bisa kejawab. Sempet cekcok, berantem adu mulut karena gue mau nunjukin ini loh jalan yang gue ambil dan plis beri keridhoan.

Ditambah dulu setelah resign dari rumah sakit gue gak langsung dapet pekerjaan enak. Harus ngerasain yang namanya gaji bulanan gak tetap. Mulai dari 100-300rb pun pernah gue rasain. Jadi, segala sesuatunya harus dari nol kayak pom bensin.
Gak deng. Quote favorite gue dari Apoteker tempat gue kerja dulu kayak gini,

“Kalau mau nyampe 100 harus mulai dari 0”


Got it? Ngerti lah ya soalnya gue males jelasin hahahampun.

And yep, sekarang, di usia 18 tahun meski baru setengah tahun ngerasain enaknya kerja, gue udah harus mulai menata hidup. Mulai dari nabung bulanan, bayar asuransi kesehatan bulanan dari pemerintah –yang ituloh inisialnya B belakangnya S tengahnya PJ- iya, gue bayar bulanannya sendiri. Ditambah bokap udah gak ngasih uang jajan rutin kan –ya, sebulan sekali minta 10rb mah dikasih- jadi gue harus pinter-pinter manage keuangan karena emang pada dasarnya wanita harus pinter ngatur keuangan. Soalnya nanti kalau nikah sama cowok yang rata-rata boros itu bisa susah deh. Trus pengeluaran pulsa internet, daily skincare, baju-baju baru, jalan sama temen, ke salon dan macam-macam yang masih pengen dirasain anak-anak muda kayak gue. Dan itu semua harus pinter-pinter gue atur kalo enggah, matilah gak ada sisa.

Untungnya sih keperluan kuliah masih dibantu bokap sampai detik ini tapi gatau deh semester depan (hah doakan yah biar dibiayai sampai lulus bahkan sampai S2)

Jadi intinya, jadi orang dewasa itu sulit makanya hidup jangan dipersulit karena emang udah sulit nanti makin sulit jadi tambah sulit.

But life’s must go on, perlahan tapi pasti nanti juga lama-lama terbiasa sama 'keras’nya dunia.
Yok se-ma-ngat!

Rabu, 29 Oktober 2014

Mimpi VS. Kenyataan

All the things on your dreams is not only a dream. It's a must for you to pursue any dream what you've dream.
Kedengerannya gampang ya? Toh, tinggal mimpi trus dapetin. Tapi nyatanya? Gak semua hal yang emang lo pengen tuh bakal kesampean.
Contoh:
1. Waktu kecil gue mau jadi dokter. Alesannya? Simpel. Tiap anak  kecil dulu kalo di tanya cita-cita pasti jawabnya mau jadi dokter lah, pilot, arsitek, guru, profesi-profesi terkenal deh. Trus nyatanya? Gue takut darah. Pernah kena pisau lagi masak. Enggak, gak trauma sama pisau. Tapi darahnya itu. Ngucur deres di bak cucian piring bikin gue nangis histeris sampe pingsan. Lebay ya? Ya, emang gitu kenyataannya. Akhirnya gue gak bercita-cita lagi jadi dokter.
2. Terlepas dari cita-cita gue yang jadi dokter. Gue masih pengen jadi tenaga kesehatan. Akhirnya gue di arahin ke Farmasi sama bokap dengan alasan untuk jadi Apoteker. Ya, untuk jadi Apoteker. Akhirnya gue masuk SMK Farmasi Swasta di kota tempat tinggal gue. Alhamdulillah, gue lulus dengan terbaik ke tiga. Seneng dong. Orangtua bangga juga. Trus lulus gue jadi Apoteker? Kaga cuy. Gue baru jadi Asisten Apoteker (sekarang tenaga teknis kefarmasian) gue punya Tante dan Oom yang juga Apoteker. Tante gue kerja di industi, Oom gue jadi PNS dan kerja di Puskesmas. Itu salah satu alasan gue mau jadi Apoteker karena ngeliat Tante dan Oom gue. Trus selesai sekolah farmasi yang jadi Asisten Apoteker, gue disuruh kerja sama nyokap. Alasannya, nyobain dulu dunia kerja tuh gimana. Di bayangan gue tuh ya kayak waktu gue PKL di RSUD. Sama sih, gue kerja di Rumah Sakit juga. Bukan Rumah Sakit pemerintah, tapi punya nya Swasta gitu. Eh..... ambruk karena kerja shiftnya yang menurut gue "GILAAAAAA BARU PULANG JAM 11 TIDUR JAM 1 TRUS HARUS BANGUN JAM 5 KARENA BESOKNYA MASUK JAM 7 PAGI?????" tepar lah gue.... gak suka dengan kerja kayak gitu akhirnya gue resign. Gue gak pernah pengen jadi Asisten Apoteker. Gue kan pengennya jadi Apoteker. Tapi jadi gak kepengen karena jadi Apoteker juga harus pinter marketing. Yoilah bro kita jualan obat! Tapi jangan di anggap remeh juga sih karena ini berhubungan sama nyawa manusia. Kalo salah dosis gimana?
3. Dulu tuh kalo ngeliat profesi guru, yang ada di pikiran gue adalah gak sejahtera. Gak sejahtera dalam hal finansial (ya gue yakin lo ngerti maksud gue) akhirnya gue coba nanya ke salah satu guru gue "Enaknya jadi guru itu apa sih? Kan salary nya kecil" and then guru gue jawab "Guru... Enaknya? Ketemu murid yang karakternya macem-macem. Trus ketika kamu udah gak jadi gurunya. Anak murid kamu pasti tetep panggil dan anggap kamu Gurunya. Juga, ketika ilmu kamu bermanfaat untuk satu murid aja. Pahala kamu inshAllah gak akan terputus dan masih banyak lagi lah pokoknya. Ketika kamu udah ngerti itu semua, salary bukan hal penting lagi."
Kenyataannya adalah.... apa yang lo impikan sesungguhnya gak selamanya jadi apa yang lo inginkan. Lo boleh sekarang mimpi 'Gue mau jadi menteri' tapi kalo kenyataannya lo di ciptakan oleh Tuhan untuk jadi seorang Presiden, lo mau bilang apa?
Btw, gue gak ngelarang lo buat bermimpi tinggi. Tapi saat mimpi-mimpi lo gak jadi kenyataan, lo jangan sampe putus asa trus bunuh diri. Itu gak keren, men. Yang keren adalah, ketika lo berani nerusin jalan yang udah di tujukan dan di tentukan oleh Tuhan. Kemanapun jalan itu akan ngebawa lo, pada akhirnya lo akan nemuin jalan hidup dan jati diri lo yang sesungguhnya. Jadi, gak usah terburu-buru untuk mutusin 'Gue sekarang kuliah keperawatan, pasti nanti gue jadi perawat' iya emang bener kok. Tapi lo cinta gak sama pekerjaan lo? Mulia emang. Tapi kalo lo nelen pil pait terus gimana? Toh, tante gue yang perawat aja mau usaha cake&bakery. Trus nyokap gue yang lulusan Adm.perkantoran dan perbankan aja sekarang buka usaha catering. Jadi, kemana pun nanti Tuhan ngebawa lo. Jangan takut dan jangan kecewa. Karena Tuhan yang duluan tau lo nantinya akan jadi apa.
Oke?
Cheers.